Creative Computer

Internet, Education, E-learning, Software, Job Vacancy, Politic

Berita Gembira dari Jalur Gaza (4): Hari ke-13, 8 Januari 2009

Ditulis oleh creativesimo di/pada 8 Januari 2009

Berikut berita-berita seputar perang di jalur Gaza pada hari ke-13, Kamis 8 Januari 2009, bersumber dari republika, jawapos dan arrahmah.com


Pejuang Palestina Gunakan Senjata-senjata Baru

Oleh Hanin Mazaya pada Rabu 07 Januari 2009, 05:41 PM

GAZA (Arrahmah.com) – Mujahidin Palestina dari gerakan Izzuddin Al-Qassam, sayap militer Hamas, telah menumbangkan strategi tentara Zionis menyusul sejumlah operasi yang justru berbalik dari yang diperkirakan.

Pada hari kesebelas serangan darat dan hari ketiga serangan udara yang dilancarkan militer Zionis secara massif yang katanya hanya untuk menghentikan tembakan roket pejuang Palestina, ternyata mujahidin masih mampu melesatkan senjatanya secara massif ke wilayah Israel. Bahkan intensitasnya semakin gencar dan jauh dari sebelumnya. Sejumlah wilayah Israel menjadi target serangan hingga Tel Aviv dapat dijangkau roket perlawanan. Hal yang tidak pernah diperkirakan dinas intelijen Israel sebelumnya.

Di pihak lain, Zionis Israel mengakui hal ini. Mereka menyatakan tiga roket perlawanan menghantam distrik Gadira dan wilayah utara Keryat Malahi. Peristiwa ini merupakan pertama kali dalam sejarah perlawanan Palestina. Sesuai dengan janji Brigade Izzuddin Al-Qossam kemarin.

Terkait hal ini, seorang penulis Israel, Ron Ben Yasha di situs internet Yedeot Aharonot mengatakan, setelah tembakan yang memakan korban (sipil) kemarin, menjadi bukti ada peningkatan signifikan dalam kesiapan tempur perlawanan Palestina. Peningkatan ini berlipat-lipat ketika menggempur pasukan Israel yang masuk Jalur Gaza. Baik melalui tembakan roket, sniper ataupun yang lainnya.

Harian ini mengisyaratkan, pertempuran yang merugikan di sejumlah wilayah di bagian utara Gaza. Perlawanan bahkan semakin sengit pada sore hari. Saling serang dan baku tembak semakin gencar. Pasukan Zionis bahkan menggunakan meriam dan senjata berat untuk melumpuhkan perlawanan.

Penulis ini menyebutkan, pasukan Zionis bergerak sangat lambat, karena banyaknya ranjau yang dipasang perlawanan, selain sejumlah terowongan dan lubang perlawanan. Menurutnya ada faktor lain yang membuat pasukan Zionis sangat lambat, yaitu kebutuhan pasukan untuk menghilangkan ranjau-ranjau dan menghancurkan terowongan tempat pertempuran tersebut.

Ia menambahkan, walau gempuran Israel semakin gencar namun para mujahid Izzuddin Al-Qassam dan mujahid dari gerakan lainnya masih menampakan kesigapannya dalam pertempuran.
Sumber: Hanin Mazaya/infopalestina/arrahmah.com



PBB Tolak Klaim Israel

Oleh Hanin Mazaya pada Rabu 07 Januari 2009, 08:52 PM

GAZA (Arrahmah.com) – Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) membantah pernyataan Israel yang menyebut adanya anggota kelompok militan di sekolah yang dikelola PBB di Jalur Gaza yang menjadi sasaran serangan bom Israel.

“Setelah melakukan penyelidikan, kami yakin 99,9% tidak ada anggota kelompok militan atau kegiatan militan di dalam dan di sekitar sekolah. Kami akan meminta penyelidik independen untuk menyelidiki hal ini. Jika aturan dalam perang telah dilanggar, yang bersalah harus dihukum,” jelas Christopher Gunness, juru bicara badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA).

Israel sebelumnya menyerang sekolah yang dikelola PBB di Jalur Gaza. Dalam serangan bom tersebut sedikitnya 42 orang tewas dan puluhan lainnya luka. Israel menilai serangan dilakukan karena sekolah itu dinilai sebagai salah satu tempat kegiatan anggota kelompok pejuang Palestina.

Sementara itu, kabinet Israel mempertimbangkan perluasan serangan darat di Jalur Gaza. Perdana Menteri Israel, Ehud Olmert mengatakan hal itu dibicarakan dalam rapat kabinet yang dipimpinnya.

Menurut seorang pejabat senior departemen pertahanan, kabinet Israel sedang mempertimbangkan untuk memperluas serangan darat di Jalur Gaza hingga ke kota-kota lainnya. Saat ini, angkatan darat Israel diminta melakukan persiapan untuk melakukan tahapan ketiga dari operasi militer yang dijalankan.

Kita tunggu saja, apakah PBB berani menentang Israel dan menghentikan invasi mereka di jalur Gaza.

Sumber: Hanin Mazaya/MI/arrahmah.com



Aneh, Israel Salahkan Hamas Atas Tewasnya Warga Sipil di Gaza

Oleh Hanin Mazaya pada Rabu 07 Januari 2009, 11:50 AM

GAZA (Arrahmah.com) – Ratusan warga sipil menjadi korban dalam invasi yang dilakukan Israel ke jalur Gaza. Tapi anehnya, pihak militer Israel enggan disalahkan. Justru menuding Hamas yang menjadi biang atas jatuhnya korban sipil.

Seperti dikutip AFP, Rabu (7/1), pernyataan ini dikeluarkan setelah 50 warga tewas akibat tembakan tank-tank Israel di dekat sekolah PBB di Gaza.

“Militer Israel menegaskan kalau warga sipil tidak menjadi target operasi,” demikian pernyataan tersebut, setelah lebih dari 500 orang warga sipil menjadi korban kebiadaban invasinya.

Israel juga menuding bila banyak peralatan militer Hamas yang ditempatkan di area penduduk sipil. “Hamas menggunakan warga sipil sebagai tameng, karena itu mereka bertanggungjawab atas semua korban sipil,” jelas pernyataan itu.

Pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan Israel, justru semakin menunjukkan siapa mereka sebenarnya. Mereka adalah orang-orang biadab yang tidak memiliki rasa malu dan belas kasihan.

Sejak Israel memborbardir kawasan Gaza pada 27 Desember 2008 lalu, sekurangnya 635 warga sipil meninggal dunia. Dan 2.900 mengalami luka-luka.

Sumber: Hanin Mazaya/dtk/arrahmah.com



Kamis, 08 Januari 2009
Anti-Semit Merebak di Eropa
Venezuela Usir Dubes Israel

LONDON – Warga Yahudi diaspora di Eropa harus ikut menanggung dampak keputusan negeri leluhur mereka yang melakukan pembantaian di Jalur Gaza. Mereka menjadi sasaran kemarahan banyak pihak. Anti-semit yang luntur pasca Holocaust 1933-1945 perlahan bangkit kembali.

Di Prancis, misalnya, seorang pria tak dikenal menabrakkan mobil ke pintu sinagog (tempat peribadatan Yahudi) di Kota Toulouse Senin lalu (5/1). Tak hanya menghantamkan moncong mobil, pria itu juga membakar dan melemparkan bom. Beruntung, tak ada korban meninggal atau luka-luka.

Dua hari sebelumnya, ratusan demonstran pro-Palestina juga mengamuk di jalanan Paris. Mereka membakar sejumlah mobil dan menghancurkan sebuah toko perhiasan. Masih di Prancis, sejak pergantian tahun, setidaknya terjadi dua serangan terhadap pelajar Yahudi. Satu terjadi di sebuah apartemen Yahudi di Bordeaux, lainnya di sinagog dekat Kota Toulan.

“Kami minta otoritas publik segera menyelidiki tanda-tanda gelombang anti-semit baru yang mengancam di depan pintu rumah kami,” kata pengurus komunitas Yahudi di Prancis, seperti dilansir Daily Telegraph.

Kejadian serupa terjadi di wilayah lain di Eropa, yakni Belgia dan Inggris. Di Belgia, sebuah bom molotov meledak di sinagog di Kota Brussel Senin lalu. Tak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Ancaman pembunuhan juga berkali-kali datang ke sebuah majalah Yahudi, Joods Actueel. Bahkan, seorang pria tak dikenal mengancam bakal meledakkan bom bunuh diri di kantor tersebut sebagai pengganti nyawa warga Palestina yang ditebas senjata Israel.

Di Inggris, ancaman terhadap komunitas Yahudi juga marak. Community Security Trust (CST), lembaga keamanan orang-orang Yahudi di Inggris, mengatakan, sejak 29 Desember 2008, terjadi setidaknya 24 insiden yang mengancam kaum Yahudi. Sebuah sinagog di Brondesbury, tenggara London, juga compang-camping diserang orang tak dikenal.

Di Golders Green lain lagi ceritanya. Seorang pria Yahudi dipaksa turun dari mobil, lalu dipukuli tiga orang. Beruntung, tak ada luka serius pada orang tersebut. Pada saat yang sama, sekelompok pemuda berusaha masuk ke toko-toko Yahudi, lalu menghina, “Dasar Yahudi!”. Di Manchester, kelompok yang menamakan diri “Hamas HQ” mencoret dinding bangunan Yahudi dengan grafiti mengolok.

Untuk melindungi kaum Yahudi dari serangan massa, pemerintah lokal Northumbria, Inggris, sampai harus mengerahkan satuan keamanan untuk berjaga-jaga di sekitar 5.000 rumah kaum Yahudi ortodoks.

“Insiden anti-semit cenderung naik dibandingkan tindakan rasis atau serangan anti-Yahudi dalam beberapa tahun belakangan,” kata Mark Gardner, juru bicara CST.

Sementara itu, pemerintah Venezuela melakukan tindakan nyata sebagai bentuk protes terhadap aksi brutal Israel di Jalur Gaza. Negeri yang dipimpin presiden beraliran kiri Hugo Chavez tersebut mengusir duta besar Israel dari Caracas.

“Rakyat Venezuela menunjukkan solidaritas pada perjuangan heroik rakyat Palestina. Kami ikut merasa berduka. Pemerintah Venezuela tak akan istirahat hingga pelaku kriminal ini dihukum,” kata menteri luar negeri Venezuela, seperti dilansir CNN.

Dalam sebuah wawancara dengan televisi nasional Venezuela, Hugo Chavez juga tak sanggup menutupi kegeramannya. ”Dasar (Israel) pengecut,” tegasnya.

Rival abadi Presiden Amerika Serikat George W. Bush itu juga menantang militer Israel untuk bertarung tinju dengannya. ”Ayo sini kalau berani,” tuturnya. (ape/ttg)

Sumber: Jawapos



Kamis, 08 Januari 2009
Din Syamsuddin Galang Seratus Tokoh Nglurug PBB, Minta Tegas terhadap Israel

JAKARTA – Perwakilan seratus tokoh lintas kelompok yang digalang Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin kemarin (7/1) nglurug Kantor Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Mereka menuntut agar PBB bersikap tegas terhadap aksi brutal Israel terhadap rakyat Palestina.

Selain politisi dan agamawan, budayawan, intelektual, pemimpin muda, dan tokoh wanita turut bergabung dalam gerakan tersebut. “Kami para pemimpin di Indonesia meminta agar PBB tegas. Jika tidak, lembaga internasional ini akan menjadi lembaga yang tidak berguna,” ujar Din Syamsuddin yang juga ditunjuk sebagai Jubir di Kantor PBB, Jalan M.H. Thamrin, Jakarta, kemarin.

Saat mendatangi Kantor PBB, perwakilan 100 tokoh itu diterima koordinator perwakilan PBB untuk Indonesia, El-Mustofa Benlamlih. Selain Din, hadir Wakil Ketua MPR A.M. Fatwa serta Mooryati Soedibyo, Ketua Umum Partai Buruh Mochtar Pakpahan, Pendeta Natan Setiabudi, Sekjen PPP Irgan Chairul Mahfidz, musisi Rhoma Irama, dan Ketua FKB Effendy Choirie. Dari kalangan muda dan artis, tampak Yuddy Chrisnandi, Budiman Sudjatmiko, dan Cici Tegal.

Dalam pertemuan tersebut, perwakilan 100 tokoh itu mendesak agar PBB mengambil langkah tegas dengan segera mengeluarkan resolusi penghentian serangan. Sanksi keras juga harus dijatuhkan kepada Israel.

” Ini merupakan kesempatan terakhir untuk melihat PBB masih berdaya atau tidak dalam menyelesaikan konflik internasional. Kalau masih belum mampu, lebih baik memang dibubarkan saja,” tambah Budiman Sudjatmiko, ketua Repdem PDI Perjuangan.

Menanggapi tuntutan tokoh-tokoh tersebut, El-Mostafa Benlamlih berjanji meneruskan aspirasi 100 tokoh tersebut ke Markas Besar PBB di New York, Amerika Serikat. “Intinya, saya setuju bahwa selain isu kemanusiaan, konflik Palestina merupakan isu keadilan. Jadi, kita memang harus hentikan serangan Israel ke Gaza dan Palestina,” ujarnya.

Dia juga berjanji terus menggunakan semua sistem dan jaringan yang dimiliki untuk mencapai perdamaian di Palestina. “Tapi, kami juga bukan kekuatan politik yang superpower. Jadi, kita harus bekerja keras dan bersama-sama untuk mencapai perdamaian itu,” tegasnya. (dyn)

Sumber: Jawapos



Setelah Jeda Tiga Jam Pertempuran Berlanjut
By Republika Newsroom
Kamis, 08 Januari 2009 pukul 05:07:00

TEL AVIV, GAZA — Pertempuran di Jalur Gaza pecah kembali dan menewaskan sembilan orang di kawasan pantai beberapa saat setelah berakhirnya masa tenang tiga jam yang diberlakukan Israel Rabu siang untuk mengizinkan warga Palestina menghimpun kebutuhan pokok.

Pesawat tempur Israel mulai melancarkan serangan-serangan di berbagai bagian Jalur Gaza mulai dari Beit Lahiya di bagian utara ke Rafah di bagian selatan setelah pukul 16 waktu setempat, saat berakhirnya masa tenang tiga-jam, kata media lokal seperti dilaporkan AFP dan DPA.

Seorang juru bicara militer Israel mengatakan sedikitnya 40 serangan udara dilancarkan Rabu.

Gerilyawan Palestina juga mulai lagi melancarkan serangan roket dan sedikitnya 22 telah ditembakkan dari dalam wilayah Gaza Rabu, kata pihak militer Israel. Beberapa serangan roket dilancarkan malam hari.

Selama masa tenang ribuan warga sipil terlihat berbelanja kebutuhan pokok di toko-toko. Lalu lintas di Kota Gaza juga terlihat meningkat tajam.

Sebelum masa tenang berlaku para medis mengatakan 24 orang Palestina tewas atau meninggal karena luka-luka yang diderita sebelumnya. Dari sembilan orang yang tewas itu di waktu malam, tiga orang adalah saudara perempuan dari keluarga Abed Rabbo, masing-masing berusia 6, 4 dan 2 tahun, di kamp pengungsi Jabalia.

Jumlah korban tewas warga Palestina diperkirakan melebihi 700 orang. Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, setengah di antara mereka yang tewas terdiri atas wanita dan anak-anak. Lebih 3.100 orang menderita cedera.

“Tak ada lagi tempat aman di Jalur Gaza, tak ada perlindungan dari bom dan perbatasan ditutup sehingga ini satu di antara konflik-konflik langka yang warga sipil tak punya tempat untuk menyelamatkan diri,” kata Maxwell Gaylord, koordinator kemanusiaan PBB di Jerusalem dalam suatu pernyataan.

PBB menyatakan bahan bakar dan gandum masih menjadi prioritas yang diperlukannya untuk dikirim ke Gaza. Israel mengizinkan sebanyak 80 truk yang membawa bantuan kemanusiaan masuk ke Jalur Gaza pada Rabu siang.

“Masa tenang tiga jam tak cukup – kami memerlukan gencatan senjata permanen,” ujar Chris Gunnes, juru bicara UNRWA, badan PBB yang memberikan bantuan ke pengungsi Palestina. Dia mengatakan hanya ini yang akan memungkinkan badan itu memulai kembali pengiriman layanan makanan lain kepada lebih 750.000 pengungsi di kantung itu.

Israel mengatakan sebelumnya pihaknya menyambut baik proposal Mesir-Prancis untuk mengakhiri pertempuran yang telah berlangsung 13 hari. Sebuah pernyataan kabinet Israel mengatakan pihaknya melihat gagasan itu “positif” tapi tidak memberikan rincian. – ant/ah

Sumber: Republika



Sepertiga yang Tewas Itu Anak-anak
By Republika Newsroom
Kamis, 08 Januari 2009 pukul 01:13:00

ANAK-ANAK TEWAS: Lelaki Palestina meratapi anak-anak yang tewas di sebuah sekolah PBB di Utara Jalur Gaza, Rabu (7/1)

KOTA GAZA — Hampir sepertiga dari 689 warga Palestina yang tewas dalam ofensif Israel atas Gaza adalah anak-anak dan sebagian besar tewas setelah dimulainya serangan darat yang dilancarkan setelah pemboman udara, kata para medis Rabu.Jumlah warga sipil yang tewas meningkat secara dramatis sejak Sabtu ketika para serdadu darat bersama-sama melancarkan serangan lewat udara dan laut atas Hamas yang menguasai Gaza.

Sebanyak 220 anak telah tewas sejak ofensif bersandi “Operation Cast Lead” dilancarkan pada 27 Desember, kata Moawiya Hassanein, ketua dinas darurat Gaza.Lembaga-lembaga kemanusiaan mengkhawatirkan korban di pihak warga sipil akan bertambah karena pertempuran mengimbas ke kawasan-kawasan padat penduduk di Gaza, salah satu tempat terpadat di Bumi.

“Yang jadi kecemasan adalah jumlah anak-anak dan keluarga mereka yang melarikan diri dari pertempuran dan bombardir atau mengungsi karena rumah-rumah mereka hancur atau rusak,” kata lembaga the Save the Children pada Rabu.

Warga sipil tak tahu mau ke mana lagi menghindari konflik itu. Perbatasan-perbatasan ditutup berdasarkan blokade Israel yang telah berlangsung 18 bulan, dan gedung-gedung yang dipandang aman sebagai tempat perlindungan oleh PBB telah digempur.

Pada Selasa sedikitnya 43 orang yang berlindung di sebuah sekolah di bagian utara Gaza tewas, demikian dinas darurat.Angkatan Darat Israel mengatakan para serdadu telah membalas serangan mortir dari dalam kompleks sekolah itu tapi badan PBB untuk pengungsi Palestina yang mengelola sekolah itu menyatakan bahwa “99,9 persen dijamin” tidak ada militan di sana.

Warga Palestina “terus-menerus merana dan nestapa karena setiap hari serangan berlangsung,” ujar Martha Myers, direktur CARE untuk wilayah Palestina, setelah salah seorang pekerjanya di bagian distribusi makanan tewas dalam suatu serangan udara Selasa malam.”Ini bukti lagi bahwa setiap serangan bahkan atas target tertentu akan menimbulkan korban di pihak warga sipil,” ujarnya.ant/afp/kp

Sumber: republika



Hip-Hop Palestina Di Tengah Krisis
By Republika Newsroom
Rabu, 07 Januari 2009 pukul 14:34:00

TEPI BARAT – Beberapa lagu-lagu hip-hop mengudara di radio-radio Palestina. Menyuarakan suara kemarahan dan protes, namun dalam bahasa Arab, tak lain karena lirik-lirik syair lagu dicelotehkan oleh grup-grup rap Palestina. Ini salah satu contoh, lagu berjudul “Meen Erhabi” yang telah diterjemahkan menjadi “Who’s the Terroris?

Who’s the terrorist?
I’m the terrorist?!
How am I the terrorist
When you have taken my land?
Who’s the terrorist?
You’re the terrorist!
You have taken everything I own
While I’m living in my homeland

Itulah sepenggal bait dalam celotehan Dam (dalam Bahasa Arab berarti “darah”). Dam adalah grup hip-hop Palestina yang digawangi oleh Tamer Nafer, Suhell Nafer, dan Mahmoud Jreri. Mereka mengawali pertunjukkan rapnya pada tahun 1999. Sejak saat itu, popularitas yang makin meningkat membuat Dam menjadi grup rap paling terkenal di seantero Palestina.

Mereka semua lahir di kawasan kumuh Lod, sebuah kota kecil berpenduduk campuran Arab dan Yahudi, sekitar 20 km dari Jerusalem. Lagu-lagu mereka selalu mencerminkan konflik Palestina-Israel yang berkelanjutan sekaligus perjuangan rakyat Palestina meraih kebebasan dan persamaan hak. Selain itu mereka juga kerap mengangkat isu kontroversial lain seperti, terorisme, narkoba, dan hak wanita.

Celoteh yang mereka bawakan dianggap membawa pesan positif oleh para pendengar warga Palestina. Terakhir mereka menjadi subjek utama film dokumenter Jackie Salloum. Film berjudul Slingshot Hip-Hop yang telah diseleksi untuk tampil dalam Festival Film Sundance itu menggambarkan kondisi darurat Timur Tengah dalam adegan-adegan musik.

“Ketika saya berkunjung ke saudara saya di Tepi Barat, situasi menjadi tambah buruk dan buruk. Namun para penyanyi rap ini memberi saya harapan,” ujar Salloum, sang sutradara seperti yang dikutip oleh Agence-France-Presse (AFP).

Dalam film dokumenter tersebut, para seniman rap itu digambarkan bergaul dengan kemiskinan yang merajalela, kesulitan dalam pemahaman antar budaya dan keyakinan, beragam masalah di setiap titik pemeriksaan di perbatasan dan rintangan lain.

“Mereka pun juga selalu jatuh bangun,” ujar Salloum. “Mereka butuh lima tahun untuk membuat satu album. Mereka berjuang mendapat dana dan tidak ada infrastruktur untuk musik yang tersedia di sini,” ujar wanita itu.

“Saya berharap kondisi itu segera berubah,”. Sutradara itu juga mengatakan grup-grup rap lain pun sering membawa pesan positif kepada pemuda, mendorong mereka mengekspresikan kemarahan melalui rima, tidak kekerasan.

Meski mereka tidak menduduki peringkat atas tangga lagu di Israel, Dam berhasil menarik perhatian sekelompok kecil pendengar, terutama dari sayap kanan. “Musik ini masih underground, namun bisa jadi mereka bakal menembus,” ujar Salloum

Dengan menggunakan rap–salah satu aliran musik paling populer di seluruh dunia–pesan-pesan dalam musik mereka yang tertindas dan terpinggirkan akan lebih mudah diterima oleh pemuda Palestina,” ujar Salloum.

Salloum sendiri mengaku pertama kali mendengar hip-hop Palestina itu di radio. Saat itu Dam membawakan lagu berjudul ”Meen Erhabi” tadi, lagu yang menjadikan grup tersebut menjadi bintang di kawasan tersebut.

Keunikkan musik mereka ialah kombinasi dinamiknya antara nada timur dan barat, yakni penggunaan ritme perkusi Arab, melodi Timur Tengah, dan hip-hop urban.

Kelebihan itu pula yang membuat perhatian dunia menyorot ke arah mereka. Kini mereka telah berpartisipasi di beberapa film dan acara, salah satunya film Slingshot Hip-Hop tadi.

Film itu sendiri menceritakan sekilas kehidupan di wilayah Israel, Tepi Barat, dan Gaza, dan juga hip-hop Timur Tengah yang terinspirasi oleh penyanyi rap Amerika Serikat, yakni Tupac Shakur, Eminem, dan Public Enemy.

Dalam film ini, selain Dam, juga hadir dua figur rapper lain yakni Mahmoud Shalabi dari Desa Akka, dan duo hip-hop wanita, Arapeyat.

Slingshot Hip-Hop dibuat sebagai bentuk alternatif perlawanan terhadap penjajahan dan blokade Israel atas Palestina, dan mobilisasi warga Yahudi besar-besaran pada tahun 1948./IOL/it

SUmber: republika



Bayi-bayi Gaza Berisiko Terkena Hypothermia
By Republika Newsroom
Selasa, 06 Januari 2009 pukul 09:04:00

LONDON–Bayi-bayi yang baru lahir di Jalur Gaza berisiko terkena hypothermia karena suhu udara yang membekukan dan putusnya pasokan listrik, yayasan bantuan Inggris Save the Children memperingatkan, Senin.

Sebagian besar rumah dan rumah sakit di Jalur Gaza, tempat suhu udara pada waktu malam anjlok hingga titik beku, sekarang tanpa listrik dan tidak memiliki pemanas, yayasan itu mengatakan, dan menambahkan orang-orang membiarkan jendela terbuka untuk mencegah kaca jendela pecah karena pemboman.

“Kita perlu mengirim lebih banyak makanan dan selimut untuk menjamin bahwa anak-anak tidak meninggal karena kelaparan dan kedinginan,” kata jurubicara Save the Children yang bermarkas di Jerusalem Dominic Nutt, yang dikutip dalam pernyataan yayasan itu.

Ketika merujuk kepada misi Uni Eropa di kawasan itu, ia menambahkan, “Kami ingin (PM Inggris) Gordon Brown dan semua pemimpin Eropa untuk mendesak dicapainya gencatan senjata agar kami mendapat akses aman ke orang-orang yang membutuhkan di Jalur Gaza.

“Orang juga harus dapat bergerak dengan bebas dan dengan aman sehingga mereka dapat ada buat keluarga mereka ketika pangan tersedia.”

Dokter Shaul Dollberg, guru besar pediatrik di Universitas Tel Aviv, seperti dikutip badan amal itu mengatakan, “Ada potensi nyata bagi hypothermia pada anak-anak di Jalur Gaza, khususnya pada bayi-bayi yang baru lahir.”

“Bayi yang baru lahir membutuhkan suhu udara lebih tinggi untuk bertahan hidup,” katanya.

Staf Save the Children di Jalur Gaza telah mengirim makanan ke sekitar 6.000 keluarga yang sangat kelaparan di wilayah itu, penyataan tersebut menambahkan.

“Staf kami mempertaruhkan hidup mereka untuk mengirim bantuan pangan. Dua staf telah mendapati rumah mereka rusak berat dalam pemboman. Tak seorang pun selamat,” kata Nutt.

“Namun kita benar-benar harus berbuat semampu kita untuk melindungi anak-anak dan bayi-bayi dari konflik ini.”

Peringatan itu tiba ketika tentara Israel memperketat cengkeraman militer mereka di Jalur Gaza dengan serangan udara baru dan pertempuran darat sementara Eropa memimpin upaya diplomatik untuk menjamin tercapainya gencatan senjata.ant/fif

Sumber: Republika



Eropa, Anti Yahudi, Krisis Gaza
By Republika Newsroom
Rabu, 07 Januari 2009 pukul 01:41:00

SINAGOG: Sebuah mobil polisi yang parkir di depan sinagog di Toulouse, Perancis barat daya, Selasa (6/1), menyusul insiden penyerang tak dikenal menabrakkan sebuah mobil ke gerbang sebuah sinagog (tempat ibadah Yahudi), Senin.

PARIS — Pemerintah negara-negara Eropa dan perkumpulan-perkumpulan masyarakat Yahudi di benua itu bersiap menghadapi kemungkinan meningkatnya kekerasan anti Semit (anti Yahudi) menyusul invasi Israel di Gaza yang telah mendorong munculnya ketegangan-ketegangan sosial dalam masyarakat Eropa.

Prancis yang menjadi negara berpenduduk keturunan Arab dan Yahudi terbesar di Eropa, ngeri pada meningkatnya kekerasan anti Semit itu setelah para penyerang tak dikenal menabrakkan sebuah mobil ke gerbang sebuah sinagog (tempat ibadah Yahudi) di Toulouse, selatan Prancis, Senin, dan ini bisa memperbesar bara kekerasan rasial.

Tidak ada yang terluka dalam insiden itu namun kegilaan itu membangkitkan kenangan buruk pada kerusuhan bernuansa kejahatan anti Semit pada 2002 mengingat latarbelakangnya sama dengan penyebab meletusnya pertempuran antara Israel dan Palestina sekarang.

Presiden Nicolas Sarkozy yang sedang mengadakan lawatan ke Timur Tengah untuk mencari dukungan bagi gencatan senjata di Gaza, mengeluarkan kutukan atas serangan ke sinagog tersebut.”Presiden Republik (Prancis) percaya bahwa negara kita tidak akan menoleransi ketegangan internasional berubah menjadi kekerasan sosial,” kata Sarkozy mengingatkan.

Dia menyeru bangsa Prancis untuk bersatu di bawah upaya diplomatiknya menciptakan perdamaian di Gaza, seraya menyatakan insiden itu “mungkin hanya reaksi sesaat dan prilaku bermartabat negara kita menghadapi perkembangan tragis di Timur Tengah.”

Sementara Menteri Dalam Negeri Michele Alliot-Marie menyebut serangan terhadap sinagog itu sebagai “bodoh dan menjijikkan” seraya menandaskan, “Keprihatinan saya adalah situasi itu tidak akan memburukkan citra negara kita bahwa kekerasan tidak bisa diimpor.”

Di negara tetangga Prancis, Belgia, seorang juru bicara pemerintah menyatakan pasukan keamanan sedang mengambil tindakan pencegahan begitu demonstrasi menentang kampanye militer Israel di Gaza menjadi membesar dan diselimuti oleh kemarahan.”Kami mencatat bahwa situasi tersebut menjadi lebih eksplosif,” kata sang juru bicara.

Bentrokan antar demonstran terjadi kota pelabuhan Antwerp, Belgia, antara komunitas Yahudi dan Muslim menyusul demonstrasi pro Palestina di negeri itu. Esoknya, Selasa, para pemimpin kedua komunitas mengeluarkan pernyataan bersama untuk menenangkan keadaan.

“Kaum Yahudi dan Muslim Antwerp tidak berbagi pandangan yang sama mengenai apa yang terjadi di Timur Tengah, namun itu tidak boleh dijadikan alasan untuk membawa (suasana) konflik di sini. Kami semua warga kota Antwerp, rakyat Flemish (warga Belgia keturunan Belanda), rakyat Belgia dan semua tetangganya,” demikian bunyi komunike itu.

Menyeberangi Selat Channel di Inggris, seorang juru bicara sebuah kumpulan yang memonitor serangan-serangan anti Semit menyatakan, kekersan terhadap orang Yahudi dan semua propertinya telah meningkat empat kali dari level normal sejak kampanye militer Israel di Gaza dilakukan.”Sepanjang minggu lalu, kami menyaksikan lebih dari 20, mungkin 25, insiden anti Semit yang muncul, berhubungan dengan kekerasan di Gaza dan selatan Israel,” kata Mark Gardner dari Community Security Trust.

Leila Shahid, utusan khusus Palestina untuk Uni Eropa, tidak meragukan serangan Senin ke sinagog di Toulouse itu berkaitan dengan meningkatnya kemarahan pada lima juta warga muslim Prancis setelah mengikuti pemberitaan media mengenai konflik di Gaza.”Lihat insiden mengerikan yang terjadi kemarin di Toulouse di mana mobil ditabrakan ke tempat peribadatan yang memang tak bisa diterima, tetapi itu adalah hasil dari gambaran-gambaran yang terjadi di Gaza,” kata Leila kepada radio RMC.

Prancis yang pernah menjadi penguasa kolonial untuk sejumlah kawasan Laut Tengah, adalah rumah bagi jutaan keturunan muslim dan Yahudi yang sebenarnya hidup berdampingan secara damai di banyak sudut di kota-kota besar Prancis.

Pada 2000, bertepatan dengan meledaknya gerakan intifada kedua atau aksi penentangan Palestina atas pendudukan Israel, para pemimpin 600 ribu warga Yahudi Prancis mengeluhkan rangkaian gangguan dan serangan terhadap kuil-kuil dan sinagog-sinagog mereka.

Pada 2002 saat perang hebat berkecamuk di Timur Tengah dan Afghanistan serta persiapan invasi AS ke Irak, jumlah serangan anti Semit tercatat melonjak dari 32 menjadi 193 insiden per tahun.

Kini, setelah tank-tank Israel sekali lagi beraksi di Gaza, demonstrasi-demonstrasi jalanan menentang perang mulai merembet kepada pecahnya aksi kekerasan. Sabtu pekan lalu, gerombolan demonstran membakar mobil dan menjarah toko-toko perhiasan di Paris.

Minggu lalu, di beberapa tempat, para penjarah juga merobohkan bagian patung Dinding Perdamaian di taman yang berseberangan dengan Menara Eiffel, menyasar sebuah panel bertuliskan “Shalom” dan “Salam”, dua kata berarti perdamaian dari Bahasa Ibrani (Yahudi) dan Bahasa Arab.

Himpunan Mahasiswa Yahudi di Prancis mencatat dua serangan toko-toko kosher (halal ala Yahudi) di baratdaya Bordeaux, satu terhadap apartemen Yahudi di Paris dan lainnya di sebuah sinagog di selatan Toulon sejak Perayaan Tahun Baru lalu.
“Kita tidak boleh membiarkan konflik di Timur Tengah menghancurkan kebersamaan kita,” ingat himpunan itu melalui satu pernyataannya.

Biro Nasional untuk Kewaspadaan pada Anti Semitisme juga meningkatkan sinyal bahaya setelah melihat serangan terhadap mobil yang dikendarai seorang rabbi dekat Paris minggu lalu, seperti halnya dengan membludaknya pesan-pesan anti Yahudi dalam banyak bilik obrol maya (chatroom) Internet di Prancis.ant/afp/kp

Sumber: Republika

Satu Tanggapan ke “Berita Gembira dari Jalur Gaza (4): Hari ke-13, 8 Januari 2009”

  1. muhyuszaeni berkata

    Berita yang perlu disimak oleh setiap kaum muslimin.
    Sekarang, bagaimana kita membantu mereka warga Palestina yang sedang terkena musibah tersebut.
    Minimal kita doakan mereka agar tetap dilindungi oleh Allah SWT dan diberi kekutan untuk membalas Israel Jahanam itu.

Komentar telah ditutup