Creative Computer

Internet, Education, E-learning, Software, Job Vacancy, Politic

Pabrik Sabu-sabu Pertama di Jawa Tengah

Ditulis oleh creativesimo di/pada 9 Mei 2009

Ini berita dari Suara MErdeka 5-6 Mei 2009, saya kopas biar ga lupa

05 Mei 2009
Pabrik Sabu Pertama di Jateng (1)
Dekat Pantai, Permudah Stok Bahan Baku

sabujeparaSebuah rumah mewah dijadikan pabrik sabu-sabu di Jepara. Padahal pabrik-pabrik sebelumnya ditemukan di kota-kota di sekitar Ibu Kota Jakarta. Bagaimana liku-liku pabrik yang merupakan temuan pertama di Jateng itu.

RUMAH mewah ini memiliki banyak kamar. Lokasinya mempet pantai, pagar menjulang tinggi dan tertutup.

Rumah milik Andreas Widodo yang kini menjadi tontonan warga itu terletak di Jalan Cik Lanang, Kelurahan Kauman, Kecamatan Jepara.

Menilik ruang destilasi, laboratorium utama pembuatan sabu-sabu, berada di ruangan paling belakang dengan selang-selang menjulur menuju ke bak-bak penampungan pengolahan limbah. Di lantai dua, terdapat kamar untuk mencoba sabu-sabu hasil produksi mereka.

Rumah yang digunakan untuk pabrik sabu-sabu ini tampak dirancang matang. Tjeng Andy Kasim, penyewa rumah itu, telah memperhitungkan semua kemungkinan, mengingat rumah itu berdekatan dengan permukiman penduduk nelayan, perahu-perahu milik nelayan ditambatkan.

Terungkapnya pabrik sabu-sabu di Jepara berawal dari pengembangan Polda Metro Jaya atas para tersangka yang tertangkap terlebih dahulu dan kemudian berkembang menuju ranah hukum Polda Jateng.

Namun penggerebekan itu tidak melibatkan jaringan intelijen di Polres Jepara, bahkan menurut sumber, Polres merasa kecolongan dengan pengungkapan kasus besar ini dengan barang bukti 30 kg sabu senilai Rp 60 miliar.

Apakah ada yang salah dengan sistem intelijen di ranah polres? “Kami tidak menganggap ini kecolongan. Kita atas nama Polri bukan institusi Polres saja, ini buah hasil kerja keras polisi di semua jajaran,” tegas Kapolres Jepara AKBP Edy Suryanto.

Lokasi dekat pantai merupakan pilihan. Tak mengherankan jika Tjeng berencana akan mengontrak rumah lagi di daerah sekitar Teluk Awur untuk pengembangan usaha haramnya. Teluk Awur merupakan daerah pesisir pantai.

Ini salah satu kemudahan para pelaku bisnis crystal ice menyetok bahan baku. Dugaan ini diperkuat dengan temuan barang bukti satu unit speed boad di TKP 2 gang Rejo, Mulyoharjo.

Apakah wilayah-wilayah dekat pantai ini menjadi daya tarik para bandar besar untuk menggelontorkan bahan baku membuka pabrik sabu-sabu? Direktur Narkoba Polda Jateng Kombes Polisi Harwiyanto tidak lantas meninggalkan fakta itu.

“Kemungkinan memang ada, kalau pelaku memilih daerah pesisir pantai seperti lokasi ini untuk mengedrop bahan baku pembuatan sabu-sabu lewat pantai. Memang ada beberapa daerah yang dipertimbangan para pelaku untuk mendirikan pabrik narkoba. Misalnya harus dicari tempat yang aman agar baunya tidak menyebar maupun lainnya,” jelasnya.

“Tapi tidak semua pabrik sabu-sabu yang dibongkar polisi berkarakteristik dekat dengan pantai. Kebetulan saja pabrik ini bersebelahan dengan pantai langsung dan saluran pembuangannya langsung menuju pantai. Kalau tidak demikian, sudah lama usaha ini dicurigai warga sekitar,” kata Harwiyanto.

Tidak Curiga

Tetangga sekitar tidak curiga dengan aktivitas pemilik rumah untuk pabrik sabu ini? “Saya tidak pernah bertemu dengan pemilik rumahnya, apalagi kenal,” kata Nadib Ketua RT 4 RW 5.

Sementara itu tetangga sekitar juga tidak merasa curiga. Sutikno hanya tahu kalau pemilik rumah datang selepas pukul 19.00 dan pergi lagi sekitar subuh mengendarai mobil mewah. Tidak ada suara mencurigakan dari dalam rumah.

“Paling terdengar suara anak-anak kecil bercanda. Untuk aktivitas pembuatan sabu-sabu, saya sama sekali tidak tahu dan tidak mengira jika rumah ini menjadi salah satu pabrik sabu terbesar di Jateng. Siapa pemilik rumahnya pun tidak kenal,” ujarnya.

Berbeda dari keseharian Tjeng di lingkungan rumah gang Rejo no 11, Kelurahan Mulyoharjo yang merupakan TKP kedua untuk tempat tinggal tersangka. Menurut salah seorang tetangganya, Hartoyo, Tjeng dan istrinya, Anis, kesehariannya dikenal baik dengan lingkungan, bahkan setiap kali ada pertemuan warga selalu datang dan ikut aktif dalam kegiatan di wilayahnya.

“Sama sekali tidak menampakkan seorang yang berkerja pembuat sabu-sabu. Sudah sekitar 1,5 tahun tinggal bersama istri dan anak-anaknya di rumah milik Taryono, warga Desa Tubanan, Kecamatan Kembang. Sebulan terakhir memang tidak tampak di rumah lagi. Kita kenalnya ya sebagai pengusaha mebel,” jelas Hartoyo.

Tidak dikenalnya Tjeng di lingkungan rumah yang dikontrak memang menjadikan keprihatinan. Setiap warga yang masuk ke lokasi baru seharusnya melapor ke pengurus RT atau RW setempat. Tapi pada praktiknya, pemilik rumah pun tidak kenal begitu baik dengan tersangka.

Bahkan saat kontrak, pemilik rumah tidak mengarahkan ke pengurus lingkungan setempat untuk sekadar melapor. Ini bisa menjadi perhatian bagi semua pihak untuk selalu mengawasi setiap penduduk baru yang datang ke lingkungan baru. (Budi Cahyono, Sukardi-77)

Sumber: DISINI

06 Mei 2009
Pabrik Sabu Pertama di Jateng (2-Habis)
Bandar Narkoba Menyusup sebagai Pebisnis Mebel

JULUKAN sebagai ’’kota ukir’’ sudah melekat dengan Jepara, salah satu kota di Pantai Utara Jawa Tengah. Pesatnya industri mebel-ukir di kota kelahiran pahlawan nasional RA Kartini, semakin mengukuhkan sebutan itu. Awal 1990-an, pemerintah Kabupaten Jepara menggelar pameran mebel ukir di Pulau Dewata Bali. Upaya tersebut memancing pegusaha dan warga negara asing masuk Jepara.

Sejak saat itu, banyak pengusaha asing yang membuka usaha mebel di Jepara, walau masih meminjam nama warga Indonesia. Ketika ekspor mebel sudah menembus dunia, Pemkab Jepara pun merasa perlu mengubah sebutan kotanya menjadi ’’Jepara: The World Carving Center ’’ (Jepara: Pusat Kerajinan Dunia).

Ketenaran Jepara dalam industri furniture lantas ada yang memanfaatkan untuk ’’usaha sampingan’’, bisnis narkoba misalnya. Awalnya menjadikan Jepara sebagai pasar atau kota transit. Penangkapan pengusaha mebel asal Australia kelahiran Hongkong, Jose Manuel Xavier (53) di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta, 26 Maret 2008 lalu, menguak bisnis haram narkoba yang menggunakan mebel sebagai kedok.

Jose yang tiba bersama sang istri, yang juga pengusaha mebel di Jepara, ditangkap polisi saat turun dari pesawat Garuda penerbangan dari Bali menuju Yogyakarta. Jose diduga menyelundupkan heroin seberat 27 kilogram dari Indonesia ke Australia.

Ketika Jose berjaya dengan ekspor mebel yang secera resmi dikelola sang istri, tidak disangka, dia ternyata juga merupakan bagian dari jaringan bisnis narkoba internasional. Dan, terbongkarnya pabrik sabu-sabu di rumah Andreas Widodo di Jalan Cik Lanang, Kelurahan Kauman, Jepara, Minggu (3/5) lalu, semakin membuktikan bahwa jaringan narkoba telah menggunakan bisnis mebel sebagai kedok.

Polisi menemukan 30 kg sabu-sabu siap edar senilai Rp 60 miliar dan bahan baku lebih dari 100 kg. Pengontrak rumah, Tjeng Andi Kasim, yang sebelumnya sudah mengontrak rumah di Desa Mulyoharjo, Jepara Kota, selalu mengenalkan diri kepada warga sekitar sebagai pebisnis mebel.

Berdampak

Apakah penemuan itu akan menambah sebutan Jepara sebagai ’’kota narkoba’’ dan berdampak pada perdagangan mebel? Menurut Ketua Komda Asmindo Jepara H Akhmad Fauzi SE, dampak tetap ada. Namun, tidak akan berpengaruh langsung. ’’Kita bisa mengambil nilai positif dari keterkenalannya. Kami kira, kolega bisnis di luar negeri tak akan mempersoalkan itu,’’ ujar Fauzi, yang juga eksportir mebel dengan bendera CV Sipra Furniture.

Fauzi yang banyak membuka pasar mebel ke Eropa mengatakan, selama pengusaha Jepara bisa menjaga komitmen dalam menjalin bisnis dengan buyer asing, tak ada persoalan serius. Yang terpenting, kata Fauzi, tetap menjaga kejujuran, ketepatan mutu dan waktu dalam memproduksi dan pengiriman barang.

’’Ketika Jepara sudah membuka diri dan masuk arus global, selain ada sisi positif, tentu akan ada ikutan sisi negatif. Namun, kami sebagai pengusaha Jepara, tetap selalu mengambil hikmahnya. Salah satunya, warga harus lebih peduli dengan lingkungannya,’’ tutur Fauzi, yang juga pengurus DPD Partai Golkar Jepara.

Hampir senada, dikemukakan Kepala Dinas Industri dan Perdagangan Kabupaten Jepara Ir Herry Purwanto MM. ’’Masuknya orang asing, baik yang berbisnis legal maupun tidak legal, itu sebuah konsekuensi sebagai kota pusat bisnis mebel dunia. Namun, kami yakin, bisnis mebel tak akan runtuh hanya oleh penemuan besar itu. Contoh paling gambar ya Bali. Selain terkenal sebagai pusat wisata dunia, Bali juga terkenal dengan bisnis narkoba internasional. Banyak kasus narkoba besar yang terungkap, namun itu tidak mengurutkan industri pariwisatanya,’’ ujar Herry.

Walau begitu, Pemkab Jepara bersama seluruh elemen yang ada, tidak akan membiarkan kasus itu terulang. Bupati Jepara H Hendro Martojo mengajak warga agar ikut bersama-sama mengawasi lingkungannya. Jadi, tak hanya menggantungkan kepada petugas keamanan.

Kondisi lingkungan Jepara yang memiliki kawasan pantai dan daerah pegunungan, menarik perhatian pelaku bisnis narkoba. ’’Dibutuhkan peran aktif seluruh masyarakat, mulai RT, RW, petugas Linmas, hingag perangkat Desa untuk lebih teliti pada lingkungan. Kehadiran warga asing dengan aktivitas yang mencurigakan, secepatnya dilaporkan kepada petugas terkait,’’ ujar Sunarto SH, Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kabupaten Jepara. (Budi Cahyono, Sukardi-46)

Sumber: Disini

05 Mei 2009
Tiga WNA Tersangka

JEPARA- Pabrik sabu-sabu pertama di Jawa Tengah yang ditemukan di Kelurahan Kauman Jepara, Minggu (3/5), memiliki pasar dan jaringan internasional sehingga pabrik itu dirancang sangat rapi.

Pangsa pasarnya tidak hanya di Jateng namun merambah lintas provinsi dan antarnegara seperi Hong Kong dan Thailand (Bangkok). Namun untuk pendalaman lebih lanjut, Senin (4/5), memeriksa lima saksi.

”Ada dua saksi baru yang akan kami mintai keterangan. Kami masih mendalami para saksi. Mereka yang diperiksa pembantu rumah tangga dan satu saksi lagi,” kata Direktur Narkoba Polda Jateng Kombes Harwiyanto, saat mendatangi dua TKP, Senin (4/5).

Sebelumnya diberitakan, (Suara Merdeka, 3/5), sebuah rumah mewah di Jalan Cik Lanang RT 4 RW 5, Kelurahan Kauman, Kecamatan Jepara digerebek Polda Metro Jaya dan Polda Jateng, Minggu (3/5), pukul 07.00. Rumah mewah itu digunakan untuk pembuatan narkoba jenis sabu-sabu.

Selain menggerebek rumah yang berjarak sekitar 2 km dari Mapolres Jepara itu, polisi menggerebek sebuah rumah di gang Rejo no 11 Kelurahan Mulyoharjo, Kecamatan Jepara, sebagai tempat persembunyian tersangka Tjeng Andy Kasim.

Penggerebekan dipimpin Direktur Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Pol Drs Arman Depari berkoordinasi dengan Direktur Narkoba Polda Jateng Kombes Harwiyanto.

Dua Lokasi

Polisi kini masih mendalami dua tempat kejadian perkara (TKP). Pertama di Jalan Cik Lanang, Kelurahan Kauman, dan kedua tempat tinggal Tjeng Andy Kasim gang Rejo no 11, Kelurahan Mulyoharjo, Kecamatan Jepara.

Di TKP pertama, garis polisi dibentangkan di lorong ruang-ruang destilasi dan laboratorium utama, padahal sebelumnya ruangan itu tidak diberi garis polisi. Menurut rencana, Polda akan menerjunkan kembali Labfor untuk mengecek ulang barang bukti berupa tabung reaksi, bahan-bahan pembuat sabu, dan peralatan lainnya di lokasi kejadian.

Sedangkan di TKP kedua, garis polisi masih melintang, sebuah speed boad warna biru diparkir di depan halaman rumah ditutupi terpal. “Barang bukti sementara kami tinggal. Kalau sudah selesai identifikasi dari labfor, baru kita bawa. Menurut rencana, besok akan didata ulang temuan-temuan tersebut untuk mencocokan identifikasi pada saat penggerebekan,” ungkap Harwiyanto.

Pengungkapan pabrik sabu-sabu pertama di Jawa Tengah ini dengan barang bukti 30 kg sabu senilai Rp 60 miliar itu tidak mudah, karena melibatkan jaringan internasional dan pabrik dirancang rapi agar sulit terdeteksi aparat.

Dua saksi telah diperiksa, termasuk pemeriksaan terhadap pemilik rumah Andreas Widodo, selama lima jam sejak pukul 10.00. Andreas yang didampingi istrinya, Tuti dicecar 29 pertanyaan oleh penyidik dari Polres Jepara, terkait latar belakang pelaku utama yang masih buron mengontrak rumahnya dengan harga Rp 30 juta setahun.

Andreas mengaku mengenal pelaku hanya sebatas klien saat akan mencari rumah kontrakan yang sebelumnya dipasang iklan di depan rumahnya.

Untuk pengembangan pencarian Tjeng Andy Kasim yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO), Harwiyanto mengemukakan, Polda akan melakukan koordinasi dengan Polda Metro Jaya yang sebelumnya mengungkap kasus bisnis sabu-sabu yang memiliki pabrik di Jepara.

“Ini kan jaringan kelas internasional, tidak hanya koordinasi antarpolda saja, melainkan kami bekerja sama dengan pihak interpol untuk mengejar pelaku dan mengembangkan kasus ini. Sementara dalam penggerebekan dua nama menjadi tersangka masing-masing An dan Ay, serta tiga warga negara asing yang menjadi peracik sabu-sabu,” jelasnya.

Kejar Pemilik

Sementara itu, Direktur Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Pol Arman Depari mengatakan pihaknya kerja sama dengan interpol untuk memburu WL. Pemilik pabrik sabu di kawasan Pantai Kartini, Jepara, Jawa Tengah itu kini tengah berada di Hong Kong. “Kerja sama sama interpol sudah pastilah,” ujar Arman, Senin (4/5).

Dua tersangka lainnya yakni AN dan TBK telah yang ditangkap Minggu (3/5) adalah kurir sekaligus peracik sabu di pabrik tersebut. Selain itu, pihaknya tengah melakukan penyidikan atas sejumlah uang di rekening sebuah bank. Diduga, WL melakukan pencucian uang atas hasil penjualan sabunya itu di sebuah bank.

Dalam penggerebekan itu, Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya menyita barang bukti berupa 30 kg sabu siap edar dan 126 kg bahan baku sabu siap produksi. Dalam seminggu, pabrik itu bisa memproduksi 15 kg sabu siap edar dengan omset dari penjualan sabu mencapai Rp 30 miliar.

Menurut Syaifatul Fitri (23), warga Kanigoro, Centong, Blitar, yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga Tjeng Andy Kasim mengungkapkan, majikannya dikenalnya sebagai sosok yang baik.

“Tiap hari biasa saja, tidak ada sosok yang mencurigakan di balik bisnis ini semua. Saya tidak tahu sama sekali kalau majikan saya dicari polisi. Setiap hari memang saya tidak keluar rumah, tapi sebulan ini majikan saya jarang terlihat di rumah,” kata Fitri sesenggukan karena takut saat diperiksa polisi. (J4,kar-77)

Sumber: Disini

Satu Tanggapan ke “Pabrik Sabu-sabu Pertama di Jawa Tengah”

  1. islamarket.net berkata

    sabu-sabu itu enak, lho! coba aja! pasti ketagihan, deh!

Komentar telah ditutup