Creative Computer

Internet, Education, E-learning, Software, Job Vacancy, Politic

Ingin Anak Laki, 35 Tahun Tak Mandi

Ditulis oleh creativesimo di/pada 14 Mei 2009

sonBerbahagialah anda, yang punya anak lelaki dan perempuan, meskipun satu-satu. Berbahagialah anda, yang tetap punya anak, meski cuma perempuan saja atau lelaki saja. Berbahagialah anda, yang sudah menikah, meski belum dikaruniai anak. Usaha terus, siang malam, plus berdoa, semoga keinginannya lekas tercapai. Berbahagialah anda, yang belum menikah, karena bebas kemana saja.

Tetapi yang penting, apapun posisi anda saat ini, jangan tiru Kailash Singh dari India ini. Ia sudah punya anak perempuan 7 orang dan masih ingin anak lelaki, sampai-sampai tidak mandi 35 tahun! Bayangkan saja baunya. Dan sampai sekarang belum punya anak lelaki. Yaaahhh… tentu saja, bagaimana mau punya anak, lha wong pasti isterinya tidak tahan berdua saja dengan dia. Weleh weleh…

NEW DELHI-SURYA -Dikaruniai tujuh anak perempuan, belum memuaskan Kailash “Kalau” Singh, 63, warga Desa Varanasi, India. Ia memendam keinginan punya seorang anak laki-laki. Untuk mewujudkan keinginannya itu, Kalau memilih sebuah ritual yang sedikit menjijikkan, tidak mandi maupun menggosok gigi.

Sudah 35 tahun ritual ini dijalankan. Ia menggantikan kebiasaan mandi dan gosok giginya dengan mandi ‘api’ setiap sore. Di waktu ini ia akan berdiri dengan satu kakinya di samping api unggun sembari merokok mariyuana dan berdoa kepada Dewa Siwa.

“Ini seperti mandi menggunakan air. Mandi api membantu membunuh kuman dan infeksi di tubuh saya,” ujar Kalau seperti dikutip Hindustan Times, Rabu (13/5).

“Saya tidak ingat bagaimana hal ini dimulai. Saya hanya tahu, hal ini telah saya lakukan sekitar 35 tahun yang lalu,” imbuh Kalau.

Lambat-laun warga sekitar mengetahui kebiasaan jorok Kalau. Akibatnya toko kelontong miliknya sepi pembeli dan akhirnya terpaksa ditutup. Kini ia tinggal di sebuah lahan pertanian di dekat bandara Varanasi.

Kebanyakan warga India menginginkan kehadiran seorang anak laki-laki karena dianggap sebagai pencari nafkah di keluarga. Sementara anak perempuan dianggap sebagai beban, mengingat mas kawin yang perlu disediakan oleh keluarganya ketika hendak menikah. Di mana akhirnya pendapatan keluarga anak perempuan akan lari ke keluarga suaminya. afp/hit/tis

Sumber: Disini