Creative Computer

Internet, Education, E-learning, Software, Job Vacancy, Politic

Di Balik Layar Rapat Kerja Komisi III dengan Kapolri

Ditulis oleh creativesimo di/pada 8 November 2009

Tepuk Tangan Dikomando Pemandu Sorak di Balkon

Rapat kerja antara Polri dan Komisi III DPR Kamis lalu (5/11) seperti menjadi ajang pembelaan untuk Polri. Nyaris tak satu pun peserta rapat yang kritis. Mereka kompak manggut-manggut saat Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri (BHD) menyampaikan alibinya.

”POLRI jangan mau diobok-obok dan direndahkan martabatnya. Susno jangan boleh mundur sebelum dinyatakan bersalah. Polri harus membela diri,” tegas anggota Fraksi Partai Golkar Bambang Susetyo mengawali rapat kerja antara Polri dan Komisi III Kamis malam lalu (5/11).

Entah dari mana datangnya, suara tepukan tiba-tiba menggema meme­nuhi ruang sidang di lantai dua gedung DPR itu. Padahal, anggota dewan lainnya tak terlihat gaduh, apa­lagi bertepuk tangan. Mereka hanya tersenyum saat rekannya memuji-muji jenderal bintang empat itu.

Setelah itu tepuk tangan rutin diberikan saat posisi Polri di atas angin. Apalagi, ketika Komjen Pol Susno Duadji yang nonaktif dari Kabareskrim itu menyatakan sumpah tak pernah menerima duit suap Rp 10 miliar terkait penanganan skandal Bank Century. Lagi-lagi terdengar tepuk tangan. Kali ini, para anggota dewan ikut-ikutan memberikan applause.

Lantas, siapa yang mengomando sorakan untuk Polri itu? Bukan Fraksi Partai Demokrat, Fraksi Partai Golkar, bukan pula Fraksi PDI Perjuangan. Tapi, fraksi balkon!

Fraksi balkon memang sebutan untuk orang-orang nonpartisan yang me­ngikuti rapat. Mereka biasanya memadati balkon yang tepat berada di sam­ping-atas ruang rapat. Dari tempat tersebut, semua gerak-gerik peserta rapat ketahuan. Kalau anggota fraksi balkon berteriak, peserta rapat pasti bisa mendengar.

Sejatinya, nama fraksi balkon adalah sebutan untuk wartawan yang meliput rapat. Kadang, kalau ada yang tidak sesuai keinginan mereka, anggota fraksi balkon sering melemparkan celetukan ke arah peserta rapat. Tapi, Kamis malam lalu fraksi balkon tak lagi berisi wartawan. Di sana banyak aparat kepolisian. Saking banyaknya, beberapa wartawan sampai tak kebagian tempat duduk di balkon.

Para anggota Polri itu merapat ke balkon Komisi III sejak kedatangan pejabat teras Polri di ruang rapat. Beberapa dari mereka berseragam lengkap dan berpakaian necis. Yang mendominasi justru anggota Polri berpakaian necis dengan kemeja cerah, dasi, dan sepatu pantalon. Mereka dengan seksama mengikuti ucapan pimpinannya.

Sedangkan yang berseragam cokelat, ada yang di balkon ada juga yang siaga di pintu keluar balkon dan ruang sidang. Hanya segelintir yang di dalam balkon. Yang berseragam di dalam balkon pangkatnya tidak rendah-rendah amat. Ada yang berpangkat ajun komisaris polisi (AKP), ada juga yang inspektur satu (Iptu).

Saat meliput rapat, Jawa Pos kebetulan duduk berdampingan dengan anggota Polri yang berpangkat AKP. Saat Bambang Danuri membeberkan argumennya, dia tersenyum dan memandang Jawa Pos. ”Makanya, kami kalau menyidik itu nggak sembarangan,” ujar pria berseragam lengkap itu.

Para anggota fraksi balkon itu serius mengikuti jalannya rapat. Terutama mereka yang berpakaian necis. Yang berseragam dinas juga serius. Tapi, setelah pukul 12 malam ke atas, beberapa orang justru ketiduran.

Rapat malam itu memang berlangsung lama. Polri dan Komisi III bahkan baru sampai tahap perumusan kesimpulan rapat pada pukul 02.30.

Nah, komando tepuk tangan salah satunya dari para anggota fraksi balkon itu. Mereka ikut gaduh saat posisi Polri di atas angin. Apalagi, ketika Susno bersumpah atas nama Tuhan dan berani dicabut nyawanya kalau menerima duit suap Rp 10 miliar. Fraksi balkon serentak mengomando tepuk tangan. Gemuruh tepuk tangan itulah yang kemudian diikuti para peserta rapat lain.

Kalau Anies Baswedan menilai DPR tak ubahnya Humas Polri, barangkali ada benarnya. DPR yang semestinya memberikan masukan dan kritik untuk Polri malah kompak mendukung. Bahkan, saat rapat diskors untuk istirahat, sejumlah anggota DPR merapat ke tempat duduk pejabat Polri. Ada yang ke Bambang Danuri, ada juga yang ke Susno. Mereka saling berbisik kemudian tertawa bareng. Padahal, beberapa jam sebelumnya mereka memasang wajah sok tegang.

Keakraban semakin erat saat Susno mendatangi tempat duduk anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat Ruhut Sitompul. Setelah bersalaman, Susno dan Ruhut berangkulan. Keduanya bahkan berpose saat sejumlah fotografer hendak menjepretnya. Susno tampaknya lupa dengan suasana saat bersumpah atas nama Tuhan hingga meneteskan air mata.

Kekariban itu seperti tiba-tiba muncul. Padahal, sebelumnya Ruhut memprotes Susno. ”Yang paling saya ingat dari Pak Susno adalah saat saya menjadi pengacara dulu. Dia pernah bilang ke klien saya, ka­lau pakai pengacara jangan pakai Ruhut. Dia tidak baik. Sekarang saya bertemu dia di sini,” kata Ruhut. (agm)

AGUNG dan PRIYO, Jakarta

Sumber: JAWAPOS

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>