Ari Muladi: Saya tak Tahan Bohong Terus-terusan
Ditulis oleh creativesimo di/pada 13 November 2009
Kamis (12/11) pagi itu, Ari Muladi terlihat santai. Seperti tak ada beban yang dibawanya. Seperti lupa bahwa akibat kesaksiannya, dua pimpinan KPK sempat ditahan oleh kepolisian dan akhirnya menimbulkan keriuhan luar biasa di jagad berita dalam negeri. Ia datang dengan celana jeans dan kemeja lengan pendek pagi itu.
Ari Muladi mengaku lahir di Surakarta, 21 November 1954. Besar di sana, ia kemudian melanjutkan kuliah di jurusan pertanian di Surabaya. Kegiatan bisnis pertamanya selepas kuliah adalah dengan mengikuti usaha saudara yang menjadi rekanan Perhutani.
Di saat itulah ia berkenalan dengan Anggodo, adik dari Direktur PT Masaro Radiocom, Anggoro Widjoyo. Kemudian, Ari meretas bisnis sendiri dengan menjadi rekanan kontraktor untuk PDAM di Surabaya.
Nama Ari melambung akhir-akhir ini karena diduga jadi perantara yang mengantarkan uang suap Anggodo ke sejumlah pimpinan KPK untuk menghentikan peyidikan terhadap kasus korupsi yang menjerat Anggoro. Kesaksian ini belakangan dicabutnya. *)
Ari Muladi meluangkan waktu untuk berbincang dengan Fitriyan Zamzami dari Republika. Ari menjawab lugas setiap pertanyaan, kendati wawancara di sebuah Hotel di Kawasan Kemang itu mesti dikelilingi oleh tatapan 10 orang kuasa hukumnya yang akan mengantarkannya untuk wajib lapor ke Mabes Polri siang harinya. Berikut petikannya;
Republika (R): Beberapa orang masih meragukan keberadaan Yulianto yang Anda sebut-sebut sebagai perantara antara Anda dengan sejumlah petinggi KPK.
Ari Muladi (A): Ada, benar ada. Saya kenalnya tahun 1999 atau tahun 2000 begitu. Saya nggak tahu dia bisnisnya apa, yang pasti dia orang swasta. Hanya dikenalkan oleh teman saya yang namanya Haji Labib. Saya waktu itu sedang bisnis rekanan dengan Air Minum (PDAM) dan sering menggali-gali jalan untuk saluran air. Saat itu Anto (Yulianto) bilang ke saya “ Mas, kalau mau gali, jalan saja dulu. Nanti urusan perizinan atau dengan polisi biar saya yang ngurusin.” Dan itu memang terbukti. Kalau nggak salah ada lima kali kasus perizinan penggalian jalan dia yang beresin.
R: Jika di Surabaya, di mana biasanya Yulianto bisa ditemui?
A: Di Tunjungan Plaza, ada Kafe di depan Sogo, disitu biasanya dia nongkrong. Orangnya bersih, tidak seperti saya, lebih tinggi sedikit, tidak kumisan, dan rambutnya selalu disisir ke belakang. Alis matanya juga agak naik ujungnya.
R: Terkait dengan kasus ini apakan dia yang mendekati Anda atau Anda yang meminta bantuannya?
A: Nggak, begini. Anggodo kan telepon saya. Sebagai teman baik Anggodo saya juga bermaksud membantu (dalam kasus dugaan korupsi di PT Masaro). Saya bilang, “Coba mas, kasih saya waktu. Siapa tahu saya bisa cari orang. Nah, kemudian saya ingat dengan Yulianto. Dia juga bilang minta waktu, kemudian dia telepon saya lagi bilang kenal dengan orang KPK, Ade Rahardja. Saya juga sempat berkenalan dengan Ade Rahardja saat dia dinas di Surabaya saat menjabat sebagai Kadit Serse Polda Jawa timur.
R: Apakah Yulianto juga mengatakan bahwa ia kenal dengan Bibit Samad Riyanto, Chandra Hamzah, dan petinggi KPK lainnya?
A: Dia hanya ngomong bahwa duitnya nanti akan diserahkan sama semuanya oleh Ade Raharja. Urutannya pertama ke pak Yasin (M Yasin, Wakil Ketua KPK), Kemudian Pak Bibit (Samad Riyanto, Ketua Bidang Penindakan KPK), Bambang (Widaryatmo mantan Direktur Penyidikan KPK), lalu dari media, penyidik, dan Chandra (Hamzah, Wakil Ketua KPK). Ini semua kenyataannya yang dibilang Yulianto.
R: Urutan berdasarkan apa?
A: Berdasarkan waktu penyerahan uangnya.
R: Berapa yang mereka terima?
A: Menurut Yulianto, masing-masing Rp 1 miliar dalam bentuk dolar kecuali Bibit yang 1,5 (miliar), media Rp 250 juta, dan penyidik Rp 400 juta.
R: Media mana yang Anda maksud?
A: Wah itu saya ndak ngerti. Dia (Yulianto) bilang hanya disuruh Pak Ade (Raharja) untuk memberikan uang sama seseorang di Pasar Festival Jakarta Selatan. Katanya untuk nutupin media. Dan memang benar, setelah itu memang di media tidak keluar (berita kasus PT Masaro) sampai Pak Bibit dan Chandra ditahan. Pemeriksaan dari KPK juga berhenti sampai sepuluh bulan, seperti yang juga dibilang sama Anggodo, makanya saya percaya sama Yulianto.
R: Selain itu, apa yang membuat Anda percaya kepada Yulianto sehingga berani mencantumkan pimpinan KPK yang disebutkan dia menerima uang dalam BAP pertama Anda?
A: Saya kalau percaya dengan orang ya percaya saja. Begitu saja. Seperti kalau orang percaya dengan saya juga mereka percaya begitu saja.
R: Apakah Yulianto pernah menunjukkan bukti tentang penyerahan uang ini?
A: Kalau urusan kayak gini mana ada buktinya!?
R: Ada kabar bahwa Anda sempat terekam berhubungan dengan Ade Raharja melalui telepon.
A: Nggak ada, saya nggak pernah. Saya nggak tahu (nomor) teleponnya Ade Raharja juga. Hanya pernah ketemu satu kali waktu dia jadi Kadit Serse (Polda Jatim), tapi itu juga saya lupa tahunnya kapan.
R: Bagaimana dengan kedatangan Anda ke KPK?
A: Hanya satu kali untuk nyerahin surat dari Anggoro. Itu saja.
R: Lantas, siapa Edy Sumarsono?
A: Saya kenalnya malah dari Anggodo. Dikenalkan sebelum peristiwa di Hotel Tugu (Malang, Jawa Timur) waktu Pak Antasari ketemu dengan Anggoro. Kira-kira sebulan sebelumnya. Saya nggak tahu kerjaannya apa, tapi katanya dia dekat dengan Antasari. Di Hotel Tugu kami (Ari dan Edy) ceritakan semua yang disampaikan Yulianto termasuk pimpinan KPK yang menerima uang.
R: Mengapa Anda mencabut BAP yang pertama ?
A: Saya sudah tidak tahan bohong terus-terusan. Kalau tidak jujur dari sekarang pasti lebih banyak lagi kebohongan yang akan saya bilang. Nggak ada yang nekan-nekan saya.
R: Anda merasa bersalah bahwa dari BAP tersebut kasus bisa berkembang demikian jauh?
A: Saya sudah sering minta maaf melalui media kepada para pimpinan KPK. Pak Bambang, Pak Yasin, Pak Bibit, dan Pak Chandra. Saya tidak ada niat untuk menghancurkan KPK. Saya juga heran kenapa malah Pak Bibit dan Chandra yang ditahan, padahal justeru dalam laporan saya (yang dicabut kemudian) yang menerima pertama kali Yasin baru Bibit dan Bambang.
R: Bagaimana tanggapan keluarga terkait keterlibatan Anda dalam kasus ini?
A: Oh, mereka marah. Tapi saya sudah bilang kalau saya akan mempertanggungjawabkan semuanya di muka pengadilan nanti.
R: Bantuan seperti apa yang pernah diberikan oleh Anggodo kepada Anda sehingga Anda bersedia menjadi perantara dengan risiko seperti ini?
A: Sebagai teman, tidak bisa diukur dengan bantuan. Dari omongan, kita berdua cocok. Dia juga percaya pada saya. Kalau dia butuh bantuan ya saya bantu, begitu juga saya. Misalnya kalau saya sakit dia carikan obat untuk saya. Kasih perhatian, nanyakan makanan kesukaan saya apa. Nah, kalau hubungannya sudah seperti itu, bagaimana?
R: Anda menerima imbalan atas peran sebagai perantara?
A: Saya nggak pernah minta. Pernah diberi USD 30.000 sama Yulianto, katanya dari KPK, dan dijanjikan sama Anggodo kalau urusannya beres, tapi nggak tahu berapa. fyz/kpo
Sumber: Republika

jasadh berkata
dagelan politik lage marak euy……
Pasang Iklan berkata
saksi kunci terhadap kasus penyuapan serta pemerasan yang dilakukan KPK kini mulai buka suara
terakhri Ary Muladi memberikan opini bahwa BAP yang iya tanda tangani terjadi karena ada unsur paksaan dan BAP tersebut bukanlah pernyataan beliau…
kini satu persatu kasus kriminalisasi KPK semakin menunjukan titik terang…
kini POLISI tinggal meburu saksi kunci lainya]terakhir salsi kunci itu memiliki nama YULIANTO…
semoga saja Yulianto segera ditemukan sehingga kasus kriminalisasi KPK ini tidak terlalu lama laru sehingga menghambat pembangunan serta kemajuan bangsa kita ini.
Iklan