Creative Computer

Internet, Education, E-learning, Software, Job Vacancy, Politic

“Halo, di Sini Kepala BKD”

Ditulis oleh creativesimo di/pada 15 November 2009

Si pelaku enggan bertemu muka dengan korban.

Tanpa ba-bi-bu, pria itu langsung ke pokok persoalan. Dia mengatakan pengangkatan tanpa hambatan itu ada syaratnya. Uswatun diminta mentransfer uang sebesar 6.925.500 rupiah. Biaya administrasi alasannya. Dan ada empat poin perinciannya. Salah satunya tentang biaya tanda tangan surat keputusan.

Penipuan dengan iming-iming pengangkatan CPNS bagi tenaga honorer kembali memakan korban. Kali ini terjadi di Bekasi pada Oktober silam dan beberapa dari delapan guru honorer telah menjadi korbannya. Mereka diminta si pelaku untuk mentransfer uang ada yang hingga puluhan juta rupiah. Pelaku juga mencatut nama Kepala Badan Kepegawaian Daerah Kota Bekasi dalam aksinya.

Uswatun tak mampu menahan rasa syukur. Guru honorer ini sampai tersujud di lantai rumahnya yang berada di daerah Mustika Sari, Bekasi. Degup jantungnya terdengar tak beraturan. Sendi tulangnya terasa lemas. Antara senang bercampur haru. Sebuah sore, awal Oktober silam itu, menjadi penutup yang manis harinya yang hampir menjadi korban penipuan seorang yang mengiming-imingkan status calon pegawai negeri sipil (CPNS) tanpa tes apa pun dengan meminta sejumlah uang.
Syukurnya semakin bertambah setelah pada hari itu pula dia mendapat informasi ada beberapa guru honorer yang bernasib tak seberuntung dia. Si penipu berhasil meyakinkan bahwa janjinya itu bukan omong kosong. Mereka bersuka cita mentransfer uang pelicin seperti yang diminta si penipu. Sambil berharap mimpi menjadi nyata. Angkanya lumayan besar. Antara dua juta rupiah hingga 50 juta rupiah. Permintaan telah dipenuhi. Tapi mimpi tak kunjung terbeli. Dan si penipu raib bak di telan bumi.
Peristiwa itu kemudian membuat korban penipuan memutuskan untuk bersatu. Dua hari setelah peristiwa mereka mendatangi kantor Badan Kepala Daerah (BKD) Kota Bekasi sebagai lembaga yang dua nama pejabatnya dicatut si penipu. Berharap mendapat titik terang perkara. Namun di sana mereka tak mendapat apa-apa. Karena memang bukan dua pejabat BKD itu yang melakukannya. Justru mereka terseret menjadi korban. Korban atas jabatan yang ditunggangi sindikat penipuan. Pelakunya bekerja cerdik. Dia enggan bertemu muka. Hanya memberi perintah lewat telepon seluler. Bekerja cepat, menekan korban yang sudah diselimuti mimpi dengan cara halus.
Siang itu, awal Oktober silam, telepon kantor Sutinah, Kepala Sekolah SD Bojong Rawa Lumbu 5, Bekasi, berdering. Dia mendapat telepon dari seorang pria yang mengaku Imanudin, Kepala Bagian Administrasi BKD Kota Bekasi. Beritanya, Imanudin membutuhkan data guru honorer yang akan diangkat menjadi CPNS.

Merasa dihubungi seorang pejabat, Sutinah memberikan enam nama guru honorer yang ada di sekolahnya. Imanudin kemudian hanya tertarik pada Uswatun dan meminta nomor ponselnya. Sutinah pun tidak menaruh curiga karena pada hari sebelumnya, Uswatun pernah bercerita tentang kunjungannya ke BKD Kota Bekasi. Dengan wajah sumringah, Sutinah pun menyampaikan kabar gembira ini kepada Uswatun. Dia tidak begitu yakin dengan berita atasannya itu.

Selisih beberapa detik kemudian, ponsel Uswatun berdering. Di layar tertera nomor 021-68179016. Nomor itu tidak dikenalnya. Tapi dia angkat saja.
“Saya Mas Iman dari BKD. Benar ibu yang bernama Uswatun Hasanah?” suara pria di ujung telepon.
Uswatun ingat benar pria itu. Dia pernah bertemu Imanudin ketika berkunjung ke BKD. Pria itu sudah tua. Tapi mengapa dia menyebut dirinya “Mas”?. Uswatun tak ingin berprasangka. Dia lanjutkan perbincangan.
“Iya benar. Ada apa ya? Bisa saya bantu?” balas perempuan ini.
“Benar Ibu adalah guru di SD Bojong ?”
“Iya.”
“Begini Bu, nama Anda masuk dalam database Badan Kepegawaian Negara, yang artinya status Anda otomatis akan menjadi CPNS. Tolong menghubungi Pak Slamet Gumelar, ya Bu,” ujar pria itu.

Slamet Gumelar juga bukan nama yang asing bagi Uswatun. Pria itu adalah Kepala BKD Kota Bekasi. Pasalnya, segala urusan administrasi guru honorer selalu berhubungan dengan orang-orang BKD. Belum sempat Uswatun membalas lontaran, si penelepon langsung membeberkan nomor ponsel Slamet Gumelar. Uswatun sebenarnya curiga. Kenapa staf BKD tidak menghubunginya melalui telepon kantor BKD yang berkepala “8”. Tapi justru dari nomor CDMA? Tapi kekhawatirannya redup dengan suka cita yang tak bisa dia sembunyikan. Mendapat status CPNS ibarat mimpi usang sejak menjadi guru honorer pada 2003. “Ah, penantian panjang akhirnya kesampaian juga,” batin dia mengelus dada.

Uswatun berlari membeli pulsa. Dia ingin segera menelepon Kepala BKD itu.
Pembicaraan pun terhubung. Slamet berada di ujung telepon.
“Halo, di sini Slamet Gumelar, Kepala BKD Kota Bekasi,” ujar suara di ujung telepon.
Awalnya, Slamet menanyakan sejak kapan Uswatun telah menjadi guru honorer. Alasan Slamet untuk mencocokkan data dari BKN. Slamet juga menegaskan soal pengangkatan CPNS secara otomatis dan tanpa ujian.

Yang diperlukan hanya melengkapi persyaratan seperti fotokopi kartu keluarga, KTP, ijazah legalisir, dan transkrip nilai.
“SKCK dan Kartu Kuning enggak masalah menyusul,” jelas Slamet.
“Lalu selanjutnya bagaimana, Pak?” tanya Uswatun.
“Saya agak buru-buru karena ada rapat sore ini,” balas Slamet.
Tanpa ba-bi-bu, pria itu langsung ke pokok persoalan. Dia mengatakan pengangkatan tanpa hambatan itu ada syaratnya. Uswatun diminta mentransfer uang sebesar 6.925.500 rupiah. Biaya administrasi alasannya. Dan ada empat poin perinciannya. Salah satunya tentang biaya tanda tangan surat keputusan.
“Terus, bagaimana cara saya membayarnya, Pak?” tanya Uswatun
“Transfer ke Bank BCA Cabang Jakarta dengan nomor rekening 467-131-874-3 atas nama Bapak Zaenal Akbar.”
“Kenapa bukan ke rekening Bapak? Dan bank cabang Bekasi?” tanya Uswatun.
“Iya Bu, ini nomor rekening orang BKN. Masak sih saya mau bohong. Saya sudah haji berkali-kali,” jawab Slamet enteng.

Uswatun menyanggupi untuk mengirimkan biaya administrasi itu. tapi hati kecilnya bergejolak. Dia lalu menghubungi Dwi Purwanto, suaminya. Uswatun menjelaskan kabar pengangkatan CPNS itu. Dwi takut istrinya menjadi korban penipuan. Dia menyarankan agar Uswatun mengecek kebenaran di BKD.
“Kalau benar, kamu bayar di depan orangnya saja, tidak usah ke bank,” pesan Dwi.

Hampir Menjadi Korban
Uswatun lalu menarik simpanannya. Empat juta rupiah ditambah tiga ratus dollar AS. Dia lalu bergegas ke BKD Kota Bekasi. Selama di perjalanan, dua kali Imanudin menghubungi Uswatun. Menanyakan perkembangan proses pentransferan uang. Tapi Uswatun tak mau ambil risiko. Dia mencoba mengulur dengan alasan belum dikirim karena antrean di bank cukup panjang. “Tenang saja Bu, saya tunggu sampai jam enam. Kantor tutupnya sampai sore” ujar Imanudin mencoba menggampangkan.

Sekitar pukul setengah dua siang, Uswatun tiba Kantor Pemkot Bekasi. Dia naik ke lantai dua, menuju ruang bertuliskan “BKD”. Di sana dia bertemu dengan seorang pegawai BKD dan menyampaikan peristiwa itu.
“Itu penipuan. Kalau dituruti, Ibu bisa jadi korban yang ke-12,” jelas pegawai itu.
Uswatun sontak kaget. Dia menghela napas panjang dan teringat wajah suaminya yang telah mengingatkannya.

Panjang akal wanita ini. Dia berencana memukul balik si penelepon misterius. Akhirnya Uswatun menghubungi saudaranya yang dinas di Polres Bekasi untuk back up-nya. Uswatun disarankan mengulur waktu. Kalau bisa menjebak pelaku. Dalam waktu bersamaan entah berapa kali Imanudin meneleponnya. Dan sebanyak itu pula Uswatun seakan-akan tetap menuruti keinginan si penelepon misterius.

Sampai pada suatu titik, Uswatun memberanikan diri untuk memancing si penipu.
“Saya hanya punya empat juta,” ujar Uswatun. Si penelepon menganggap hal itu tidak masalah. Yang penting uang ditransfer saja.
Uswatun juga meminta Imanudin untuk bertemu langsung. Semula tantangan itu seperti diamini.
“Saya pakai baju putih dan celana hitam. Nanti kita bertemu di BKD saja. Tapi setelah uang ditransfer,” balas Imanudin.
“Tapi bagaimana saya tahu kalau itu Anda?”
“Saya ada lantai bawah BKD,” jawab Imanudin

Seluruh pembicaraan itu diperdengarkan Uswatun kepada pegawai BKD tadi. Mengetahui si pelaku berada di bawah. Pegawai BKD itu langsung mencari pria seperti yang dicirikan. Tapi hasilnya nihil. Sedangkan Slamet Gumelar sedang berada di ruangnya lantai dua.

“Bagaimana Bu, sudah selesai?” ujar si penelepon kembali mengecek.
Uswatun pun langsung menutup telepon. Beberapa menit kemudian, dia memberanikan diri untuk balik menghubungi orang yang mengaku Imanudin itu.
“Mas, tadi saudara saya yang intel dan dari Kodam 202 mencari Anda dan Pak Slamet di kantor BKD. Mereka ada dan tidak mengakuinya. Anda mau main-main dengan saya!” bentak Uswatun. Seketika hubungan telepon diputus si penerima. Dan nomor-nomor yang dipakai Iman dan Slamet itu kemudian sudah non aktif. nala dipa/rangga prakosa

Posted by : Lazuarda Wibowo

 

Sumber: KoranJakarta

 

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>