Creative Computer

Internet, Education, E-learning, Software, Job Vacancy, Politic

Keresahan Muslim di Amerika Serikat setelah Tragedi Fort Hood

Ditulis oleh creativesimo di/pada 15 November 2009

erbantu Tingginya Toleransi di Militer

KETIKA Jason Rodriguez menembak mati seorang rekan kerjanya dan melukai lima lainnya di Orlando pada akhir Oktober lalu, apakah pemicunya adalah karena dia Katolik, Hispanik, karyawan yang suka mengeluh, atau sekadar edan?

Awal tahun ini, James von Brunn melepaskan tembakan secara membabi buta di Museum Holocaust dan menewaskan seorang penjaga. Betulkah itu terjadi karena dia Kristen, pendukung supremasi kulit putih, atau semata seorang pecundang?

Sally Quinn, kolumnis masalah agama dan kepercayaan di Washington Post, mengajukan dua contoh kasus tersebut untuk menepis sentimen negatif yang berkembang di Amerika Serikat menyusul tragedi di Fort Hood pada 5 November lalu. Pada insiden berdarah tersebut, Mayor Nidal Malik Hasan, seorang warga muslim AS keturunan Palestina, menembak mati 13 orang dan melukai beberapa lainnya.

Mayoritas warga AS pun langsung terperangkap kembali dalam prasangka purba begitu kejadian itu tersiar: bahwa Islam yang sudah sekitar seabad masuk ke AS itu berbahaya, bahwa muslim itu teroris. Komisi Ombudsman Washington Post, salah satu koran paling berpengaruh di AS, misalnya, mengaku sampai kewalahan menampung segala kecaman serta kemarahan warga Negeri Paman Sam tersebut terhadap Islam pascainsiden di Fort Hood.

Nah, Quinn berusaha menepis hal itu dengan memberi contoh kasus Rodriguez dan Vonn Brunn tersebut. Ketika dua orang itu kalap, ungkap Quinn, mengapa tak ada tuduhan tentang fundamentalisme Katolik atau Kristen?

”Sebab, banyak faktor yang berperan dalam kasus-kasus seperti itu. Jadi, dalam kasus Fort Hood, mengapa begitu banyak orang menyalahkan atau mempertanyakan Islam hanya karena aksi seorang pemeluknya,” lanjut Quinn dalam tulisannya.

Sebenarnya, bukan hanya penulis berpikiran terbuka seperti Quinn yang berusaha menghapus stigma yang muncul tentang Islam dan muslim pasca kejadian di Fort Hood. Eboo Patel, direktur eksekutif Interfaith Youth Core, juga menegaskan bahwa aksi gila Nidal itu sama sekali tak merefleksikan Islam.

Bahkan, dalam pidato di upacara pemakaman para korban, Presiden Barack Obama sama sekali tak menyebut kata ”muslim” atau ”teroris”. ”Berbagai ras dan agama yang bercampur di dalam militer merefleksikan keberagaman yang menjadi ciri khas Amerika,” ujar Obama. ”Mereka disatukan oleh satu visi, yaitu patriotisme.”

Sebab, sampai sekarang pun belum jelas betul motif di balik aksi brutal Nidal. Namun, tetap saja kekhawatiran adanya pembalasan akibat aksi Nidal di Fort Hood menyelimuti warga muslim AS. Di Islamic Center di Washington, Chicago, dan beberapa kawasan lain, para pengurus masjid terpaksa meminta pengawalan ekstra dari polisi. Para ulama juga mewanti-wanti agar jamaahnya lebih waspada.

”Jangan keluar rumah sendirian,” imbau Hussam Ayloush, direktur Council on American-Islamic Relations (CAIR) di California Selatan, kepada Associated Press.

Kekhawatiran lebih besar dirasakan warga muslim AS yang tergabung di militer. Saat ini, di antara total 1,4 juta personel militer AS, Pentagon mencatat sekitar 3.557 orang beragama Islam. Tapi, diduga jumlah tersebut masih bisa bertambah. Sebab, sekitar 283.000 personel militer yang lain tidak mencantumkan keyakinan mereka dalam dokumen resminya. Sementara itu, jumlah muslim di negeri dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia tersebut berkisar 7 juta jiwa.

Para tentara yang muslim tersebut sangat dibutuhkan militer AS ketika harus terjun ke medan perang seperti Afghanistan dan Iraq. Para personel muslim yang umumnya keturunan imigran Timur Tengah itu menjadi semacam ”penyambung lidah”.

”Jujur, saya sekarang cemas spekulasi yang terus bermunculan ini bakal mendatangkan aksi balasan terhadap para serdadu muslim kami,” ujar Kepala Staf Angkatan Darat AS Jenderal George Cassey kepada CNN.

Apalagi, selama ini kerap dilaporkan bahwa banyak personel militer muslim yang dilecehkan. Ejekan ”teroris” atau ”Taliban” adalah makanan sehari-hari. Banyak juga personel militer muslim tersebut yang dianggap sebagai musuh dalam selimut.

Itu pula yang dikabarkan dialami Nidal. Pernah suatu kali pula stiker ”Allah Is Love” yang ditempel di bumper mobilnya disobek. Para tentara AS yang muslim juga selalu mengalami perang batin setiap ditugaskan ke Iraq atau Afghanistan yang notabene negeri muslim. Mereka tertekan karena merasa harus membunuh sesama muslim.

Karena itulah, menarik pelajaran dari tragedi Fort Hood, Andre Carson, salah seorang di antara dua anggota Kongres AS yang muslim, meminta agar militer lebih fokus pada masalah kesehatan mental para anggotanya. Carson yakin tak akan ada balasan kepada tentara yang muslim hanya karena aksi Nidal.

Keyakinan Carson itu didukung Sersan Fahad Kamal yang juga personel di Fort Hood. ”Saya jarang mendapat perlakuan negatif karena keyakinan saya,” ujarnya.

Memang pernah ada seorang rekan yang memanggilnya teroris. Kamal menganggap itu hanya guyonan. Tapi, tidak demikian dengan atasannya yang kebetulan mendengar. Si rekan Kamal tersebut langsung dihukum.

Relatif tingginya toleransi di militer itu juga dirasakan Mayor Aisha Bakar. ”Selama bergabung dengan Marinir, saya tidak pernah dilecehkan karena memeluk Islam. Saya tidak pernah menyembunyikan identitas muslim saya,” ujar perempuan keturunan Syria itu bangga. (hep/ttg)

Sumber: Jawapos

Balas dengan Sita Empat Masjid

RAZIA besar-besaran terhadap pusat kegiatan muslim dalam rangka kontraterorisme kembali diintensifkan di Amerika Serikat. Dalam sebuah penyitaan yang disebut sebagai terbesar dalam beberapa tahun terakhir, empat masjid dan sebuah gedung pencakar langit di New York menjadi target karena dianggap terkait dengan Iran.

Lewat Pengadilan Federal, Yayasan Alavi digugat jaksa federal dengan sita jaminan aset senilai USD 500 juta (Rp 4,7 triliun). Pengambilalihan itu termasuk sejumlah rekening bank, pusat pendidikan Islam, seperti sekolah dan masjid masing-masing di New York, Maryland, California, dan Houston. Selain itu, ada tanah 100 hektare di Virginia dan gedung 36 lantai di Manhattan.

Permintaan penyitaan sejumlah properti tersebut akan menjadi pukulan telak bagi Iran, di mana pemerintah AS menuduh mereka membiayai terorisme dan berupaya membangun jaringan di negeri Paman Sam.

John D. Winter, pengacara Yayasan Alavi, mengatakan, tindakan pengambilalihan itu akan membuat kasus tersebut semakin meluas. Dia menegaskan, setahun kasus itu berjalan, Yayasan Alavi selalu bertindak kooperatif dengan pemerintah. ”Jelas yayasan kami kecewa terhadap pemerintah yang melakukan tindakan ini (pengambilalihan, Red),” terang Winter kepada Associated Press.

Penyitaan rumah ibadah sangat langka terjadi di bawah hukum AS. Tak pelak, muncul kritik atas pelanggaran amandemen pertama terhadap prinsip kebebasan beragama dalam konstitusi itu.

Tindakan terhadap sejumlah masjid muslim Syiah diyakini akan memanaskan hubungan pemerintah AS dengan muslim Amerika. Sementara yang lain khawatir hal itu merupakan tindakan balasan atas tragedi penembakan di Fort Hood.

”Apa pun tindakan pemerintah atas kasus ini, merazia tempat ibadah harus menjadi perhatian organisasi hak asasi sipil, karena akan preseden bagi para pemeluk agama dan kepercayaan lain. Selain itu, tindakan ini membawa pesan negatif kepada komunitas muslim internasional,” papar Ibrahim Hooper, juru bicara Dewan Hubungan Islam-Amerika.

Tidak jelas tentang tindakan yang akan diambil terhadap beberapa aset tersebut. Namun, biasanya pemerintah akan menjual aset yang disita untuk membayar denda. Kemudian, uang itu disalurkan kepada korban kejahatan tertentu.

Juru Bicara Kejaksaan AS Yusill Scribner mengungkapkan, tidak ada dugaan kejahatan terhadap pengelola tenan yang menyewa di gedung yang tetap dibuka itu. Penyidik mengungkapkan, Yayasan Alavi mengelola gedung tersebut untuk kepentingan pemerintah Iran dan bekerja sama dengan perusahaan ternama Ass Corp yang diduga secara ilegal menyalurkan dana jutaan dolar ke bank pemerintah Iran, Bank Melli. Lembaga perbendaharaan AS menuduh Bank Melli mendukung program nuklir Iran. (cak/ami)

 

Sumber: Jawapos

 

Keprihatinan Komunitas Islam Greater Killeen atas Ulah Jamaahnya, Mayor Nidal Malik Hasan

Curhat Takut Masuk Neraka karena Ditugaskan di Afghanistan

Tragedi Fort Hood mengoyak kedamaian komunitas Islam Greater Killeen, Texas. Pasalnya, Mayor Nidal Malik Hasan, penembak di basis militer terbesar AS itu, adalah jamaahnya.

SALAT Jumat di Masjid Killeen, Highway 195, dekat Fort Hood, akhir pekan ini terasa beda. Khotbah yang disampaikan oleh dokter Manzoor Farooqi kental dengan kalimat keprihatinan atas perbuatan salah seorang jamaah mereka, Hasan.

Farooqi yang juga pemimpin masjid itu menegaskan bahwa komunitas Islam mengutuk tindakan pengecut yang menewaskan sejumlah anggota militer yang berjuang demi negara tersebut. “Dia terpelajar. Seorang psikiater. Saya tidak percaya dia bisa melakukan hal bodoh seperti itu,” ujar pemimpin masjid milik komunitas muslim yang beranggota sekitar 75 keluarga tersebut.

Farooqi menyatakan sangat kaget ketika melihat wajah Hasan ditayangkan di layar beling dan diidentifikasi sebagai penembak di Fort Hood.

Dokter anak-anak tersebut tidak asing dengan sosok Hasan. Sebab, dua bulan terakhir dia rajin beribadah di masjid komunitas tersebut. Apalagi, di Masjid Killeen hanya ada sekitar sepuluh jamaah yang membalut tubuh dengan seragam militer layaknya Hasan saat salat maupun mengaji.

Sejurus kemudian, Farooqi mengajak 40-an jamaah untuk mendoakan anggota militer yang tewas di tangan Hasan. “Tak ada kata-kata yang bisa menjelaskan kejadian kemarin. Mari kita mengheningkan cipta sejenak untuk mendoakan mereka yang meninggal,” terang Farooqi menjelang salat Jumat yang dipimpin imam masjid itu, Syed Ahmed Ali.

Farooqi, layaknya muslim Amerika Serikat yang lain, khawatir sentimen terhadap Islam kembali menguat pascainsiden menghebohkan yang menewaskan 13 personel militer itu. Kehidupan bertoleransi antarumat beragama yang selama ini terjaga di lingkungan mereka bisa terganggu.

Kecaman serupa dilontarkan oleh Nihad Awad. Direktur eksekutif nasional Dewan Hubungan Islam-Amerika itu berkata, “Komunitas muslim Amerika sangat mengutuk tragedi penembakan tersebut. Kita harus memastikan bahwa korban luka mendapatkan perawatan dengan baik dan keluarga korban tewas diberi kesempatan untuk berkabung.”

Senada, Sersan Fahad Kamal, 26, salah seorang jamaah salat Jumat di Masjid Killeen, melontarkan kekecewaan. “Saya percaya bahwa itu merupakan masalah individu dan tidak berkaitan dengan agama,” ujar petugas medis yang saat itu mengenakan seragam angkatan udara tersebut. Dia baru kembali ke AS tahun lalu, setelah bertugas 15 bulan di Afghanistan.

Kalangan muslim tak ingin ada pandangan keliru tentang Islam, agama yang sejatinya menebarkan perdamaian di muka bumi. Mereka menegaskan bahwa kebrutalan Hasan tak mencerminkan sikap muslim secara general.

Selama ini, komunitas Islam Greater Killeen hidup rukun dengan penganut Kristen di lingkungan tersebut. “Setelah peristiwa 9/11, tidak ada yang terjadi di sini. Kami hidup berdampingan dengan damai,” ungkap Ajsaf Khan yang mempunyai tiga toko ritel bersama adiknya, Abdul Khan, di wilayah tersebut.

Meski hujatan dilontarkan terhadap Hasan, simpati juga mengalir. Sejumlah rekan justru mengingatkan para petinggi militer agar mengevaluasi kebijakan yang mungkin membuat pria 39 tahun itu muntab.

“Kala seorang pria kulit putih menembak di sebuah kantor pos, mereka bilang itu hanya masalah komplain biasa tentang pelayanan masyarakat. Tapi, mengapa ketika seorang muslim yang melakukan hal tersebut, semua orang menganggap sebagai jihad,” ujar Victor Benjamin II, 30, mantan anggota militer yang juga rekan Hasan.

Dia menambahkan, pihak yang bertanggung jawab harus menelusuri lebih lanjut kasus tersebut. “GI (sebutan untuk perlengkapan militer AS, Red) seperti peralatan militer lain. Ketika menyalak, siapa pun yang memegangnya, itulah yang bertanggung jawab,” tegas dia. Dengan kata lain, bukan latar belakang keyakinan seseorang yang memegang senjata yang harus dipermasalahkan, melainkan tindakannya.

Hasan dilaporkan merasa tersudut karena tugas kemiliteran yang bertolak belakang dengan keyakinan agamanya. Dia pernah bercerita kepada sejumlah rekan di masjid, antara lain, Duane Reasoner Jr. Dikatakan, Hasan mengeluh karena akan dikirim ke Afghanistan pada 28 November 2009. Dia tidak menyukai penugasan itu.

“Dia (Hasan, Red) mengatakan harus berhenti sebagai tentara. Dalam Alquran disebutkan, seorang muslim tidak boleh berkomplot dengan Yahudi, Kristen, maupun yang lain. Jika pergi berperang melawan muslim, kau akan masuk neraka,” ucap Duane. (cak/ami)

 

Sumber: Jawapos

Satu Tanggapan ke “Keresahan Muslim di Amerika Serikat setelah Tragedi Fort Hood”

  1. azmimuh berkata

    karna itu diakibatkan oleh musuh2 islam

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>