Trailer Mud Max, Film Tragedi Lumpur Lapindo
Ditulis oleh creativesimo di/pada 15 November 2009
Masyarakat dunia, termasuk Indonesia, tidak lama lagi dapat menyaksikan sebuah film dokumenter tentang tragedi bencana Lumpur Lapindo, Mud Max.
Film yang diproduksi Immodicus SA dan Arizona State University School of Earth and Space Exploration itu diluncurkan pada Jumat (13/11) malam di Scottsdale, Arizona.
Peluncuran yang berlangsung di Hotel Mondrian itu dilanjutkan dengan diskusi panel beberapa ahli geologi tentang fenomena lumpur panas yang mulai menyembur di lahan eksplorasi minyak dan gas PT Lapindo Brantas di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, pada 29 Mei 2006 itu.
Mud Max mengungkap berbagai fakta menyangkut kasus tersebut dari segi keilmuwan, ekonomi, kemanusiaan dan politik.
Dalam Mud Max, dimunculkan pendapat bertentangan dari sejumlah ahli tentang penyebab munculnya lumpur, apakah kejadian alam atau kesalahan manusia.
Dalam diskusi panel, Juru Bicara Immodicus SA, Avian Tumengkol, mengatakan film Mud Max tidak diarahkan untuk menentukan apakah semburan lumpur itu merupakan bencana alam atau akibat dari kesalahan manusia.
“Film ini untuk memberi pemahaman, temuan-temuan dan pandangan-pandangan dari kedua pihak. Tujuan film ini adalah untuk memberi kesempatan kepada publik menentukan pemikiran dan pemahaman mereka sendiri untuk menyimpulkan mana yang benar,” kata Avian.
Menurut Produser Eksekutif Mud Max, Chris Fong, beberapa stasiun televisi asing telah menyatakan tertarik untuk memutar film berdurasi 47 menit itu..
“Metro TV di Indonesia juga menyatakan minatnya untuk menayangkan film ini,” katanya.
Kontroversi adalah faktor utama yang membuat Chris Fong tertarik memproduksi film soal kasus lumpur Lapindo. “Audien akan tertarik dengan kontroversi. Saya lihat isu ini ternyata lebih rumit dan unsur politisnya demikian kuat,” ujar Chris.
Permasalahan yang demikian rumit sempat membuat ia sendiri kehilangan kesabaran. “Saya benar-benar hampir menyerah karena sulit sekali mendapatkan jawaban-jawaban,” cetusnya.
Namun, film tersebut akhirnya dapat diselesaikan setelah melewati berbagai riset selama satu tahun dan wawancara dengan berbagai sumber.
Komentar dan keterangan dirangkum dari berbagai pihak, termasuk dari para korban dampak luapan lumpur, pemerintah daerah, pihak PT Lapindo Brantas, Walhi dan BP Migas.
Di bagian akhir tayangan, Mud Max menaruh catatan tentang keputusan Mahkamah Agung pada Mei 2009, PT Lapindo Brantas dibebaskan dari tuduhan dan pemerintah akan mengambil alih tanggung jawab penanggulangan banjir lumpur di Sidoarjo dari Lapindo Brantas.
Bagian itu juga mengungkapkan kecenderungan bahwa kontroversi soal Lumpur Lapindo akan terus berlanjut, demikian pula perbedaan pendapat di kalangan pakar tentang penyebab luapan lumpur di Sidoarjo.
Mud Max melaporkan bahwa simposium tentang lumpur Lapindo yang diadakan London Geological Society dan American Association of Petroleum Geologists (AAPG) Oktober 2008, misalnya, tidak dapat membuktikan pembenaran ilmiah tentang penyebab menyemburnya lumpur.
Sebelumnya menurut catatan media, simposium yang diadakan di Cape Town, Afrika Selatan, itu diakhiri dengan pemungutan suara karena pendapat-pendapat yang disampaikan para ahli tentang penyebab lumpur Lapindo sangat bertentangan.
Pemungutan suara yang diikuti oleh 74 ahli perminyakan dunia menunjukkan bahwa 42 ilmuwan mendukung teori bahwa pengeboran ladang Banjar Panji 1 di Sidoarjo yang dilakukan oleh Lapindo Brantas merupakan penyebab menyemburnya lumpur.
Tiga ilmuwan setuju dengan pendapat bahwa semburan lumpur pada 29 Mei 2006 itu disebabkan gempa bumi yang mengguncang Yogyakarta dua hari sebelumnya.
Enam belas ilmuwan menganggap bukti-bukti yang disampaikan para pakar pembicara tidak meyakinkan; dan 13 ilmuwan lainnya mendukung pendapat bahwa luapan lumpur merupakan kombinasi dampak dari terjadinya gempa bumi serta pengeboran di ladang eksplorasi.
Menurut Chris Fong, Mud Max dengan naskah versi Bahasa Indonesia akan diluncurkan di Indonesia pada Januari 2010.
Sumber: Kompas
Sulitnya Menjaga Netralitas di Tengah Kontroversi
School of Earth and Space Exploration (Jurusan Eksplorasi Bumi dan Antariksa) Arizona State University Amerika (ASU) membuat film dokumentasi terkait semburan lumpur Lapindo, yang di kalangan ahli internasional dikenal sebagai Lusi (lumpur Sidoarjo).
—
WARTAWAN Jawa Pos, Rukin Firda, berkesempatan menyaksikan premier launching film tersebut di Scottsdale, Arizona, kota tempat ASU berada. Premier film diadakan di Mondrian Hotel Scottsdale sekitar pukul 20.00 Jumat, 13 November. Judul film berdurasi 47 menit tersebut memantik rasa penasaran untuk menyaksikannya. “MUD MAX: Investigative Documentary – Sidoarjo Mud Volcano Disaster“. Bisa jadi ada yang menduga film tersebut adalah pelesetan film Mad Max, yang dibintangi aktor Hollywood Mel Gibson, yang dibuat beberapa seri.
Beberapa kalangan diundang untuk menyaksikan premier film tersebut. Di antaranya akademisi di universitas tersebut. Beberapa pelajar Indonesia di ASU juga mendapat kesempatan. Presiden Lapindo Brantas Inc Dharma Irawan Jenie tampak hadir bersama Relations and Social Affairs Lapindo Yuniwati.
Sebuah penampilan musik tradisional Jawa, gamelan, ditampilkan mengawali premier film tersebut. Yang unik, para nayaga (pemain gamelan) adalah beberapa pengajar dan karyawan perguruan tinggi itu. Di tengah jeda antara penyajian gamelan dan pemutaran film, Direktur ASU Kip Hodges memberikan sambutan. “Film ini dibuat untuk menunjukkan peran yang bisa dilakukan kalangan ilmuwan terkait bencana Lusi,” kata Hodges, yang malam itu mengenakan baju bermotif batik di bagian belakangnya.
Film itu diawali dengan pemandangan khas alam Indonesia. Laut, gunung-gunung, dan sawah. Diikuti penjelasan bahwa negara yang indah itu sebenarnya menyimpan potensi bencana karena berada di jalur cincin gunung api yang dikenal sebagai Ring of Fire. Gambar yang ditampilkan adalah peta dunia dengan garis kuning mengelilingi Samudera Pasifik yang menunjukkan lokasi pegunungan di beberapa negara, termasuk Indonesia.
Gambaran itu langsung mengingatkan pada film dokumenter lain yang sukses yaitu Ring of Fire. Kebetulan, dalam pembuatan MUD MAX, ASU bekerja sama dengan produser film Immodicus, yang juga memproduseri film Ring of Fire.
Selanjutnya, di menit-menit awal film tersebut menampilkan rentetan bencana yang terjadi di Indonesia yang disebut-sebut berkaitan dengan posisi geologis Indonesia yang berada pada jalur Ring of Fire. Mulai meletusnya Gunung Krakatau di Selat Sunda pada 1880-an, sampai gempa di Jogja 2006, yang hanya selisih beberapa jam sebelum terjadi semburan liar di dekat lokasi pengeboran Lapindo di Desa Jatirejo, Kecamatan Porong, Sidoarjo, Mei 2006.
Sederet ahli pun ditampilkan dalam bentuk wawancara untuk menjelaskan keterkaitan potensi bencana di Indonesia dengan Ring of Fire tadi. Yang paling menonjol dan sering dimunculkan adalah Adriano Mazzini, peneliti proses geologis dan fisika Universitas Oslo, Norwegia. Lelaki berdarah Italia tersebut bahkan beberapa kali ditampilkan sedang mengambil sampel atau mengadakan pengamatan pada fenomena semburan lumpur.
Tidak saja yang terjadi di Sidoarjo, namun juga di tempat lain di Indonesia. Di antaranya Bleduk Kuwu, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah; Gunung Anyar, Surabaya; dan Kalanganyar, Sidoarjo. Sepertinya, Mazzini mencoba menarik benang merah antara fenomena semburan lumpur tersebut dengan yang terjadi di Porong.
Mazzini tampak seperti pemeran utama film tersebut karena lebih sering muncul. Dia juga menjadi technical advisor selama pembuatan film tersebut. Bisa dikatakan Mazzini memang berperan rangkap, sebagai aktor utama dan pengarah teknik film.
Selanjutnya, film fokus pada gempa di Jogja Mei 2006. Disajikan rentetan demi rentetan peristiwa alam yang terjadi setelah gempa tersebut, termasuk munculnya semburan liar di dekat sumur Banjar Panji I di Jatirejo, Porong. Digambarkan tujuh jam setelah gempa Jogja, terjadi hal yang tidak biasa di pengeboran Lapindo di Jatirejo. Paling menonjol adalah munculnya semburan liar sekitar 50 meter dari pengeboran.
Memang tidak secara tegas digambarkan bahwa semburan liar itu sebagai akibat gempa di Jogja. Namun, penonton yang tidak mengikuti sejak awal perkembangan semburan tersebut, cenderung membuat kesimpulan seperti itu. Apalagi, rangkaian gambar gempa Jogja dan munculnya semburan liar di pengeboran Lapindo diulang beberapa kali.
Secara keseluruhan, memang banyak pengulangan yang ditampilkan dalam film itu. Termasuk penjelasan para ahli yang mengarah pada kesimpulan bahwa semburan lumpur panas di Porong itu adalah natural disaster (bencana alam).
Sementara dalam konferensi para ahli geologi internasional di Capetown, Afrika Selatan, 2008 lalu, para ahli berbeda pendapat. Satu sisi menyebut sebagai natural disaster, sementara sisi lain menyebutnya dengan istilah man made.
Karena ada perbedaan pendapat itulah akhirnya diadakan voting. Hasilnya, sekitar 70 persen ahli geologi dunia menyatakan Lusi adalah man made. Yang setuju dengan natural disater hanya sekitar 20 persen. Sisanya menyebutkan gabungan kedua penyebab tersebut.
Meski begitu, film tersebut mencoba netral dengan tidak banyak membahas kontroversinya. Akibatnya, pemberian subjudul investigative documentary, jadi kurang tampak pada keseluruhan film. Sebagian besar film tersebut lebih banyak mengulas teknis geologis, terutama yang menyangkut posisi Indonesia pada jalur Ring of Fire.
Film tersebut lantas mencoba untuk netral dengan menampilkan ahli-ahli lain yang menyatakan bahwa semburan liar itu berkaitan dengan pengeboran di Jatirejo. Meski porsinya tidak sebanyak mereka yang mendukung teori korelasi dengan gempa Jogja, bagi penonton kritis kemunculan pendapat itu cukup untuk memicu pemikiran terhadap kemungkinan teori man made disaster.
Secara keseluruhan film tersebut sepertinya tidak ingin mengembangkan kontroversi terkait penyebab munculnya semburan liar di sumur Lapindo, yang sampai sekarang masih terus berlangsung. Film itu lebih memunculkan pada teori-teori geologis terjadinya mud volcano. Bahkan, di bagian akhir film, diungkapkan bahwa para ahli yang berbeda pendapat sepakat menjadikan Lusi sebagai natural laboratory (laboratorium alam) guna pengembangan ilmu geologi.
Itu juga terjadi pada sesi diskusi panel seusai pemutaran film. Hampir seluruh pertanyaan yang disampaikan berkaitan dengan teori-teori geologis. Yang patut disayangkan, panelis yang hadir dalam diskusi tersebut sebagian besar adalah ahli yang mendukung teori bahwa Lusi adalah natural disaster. “Kami sudah mengundang ahli yang berbeda pendapat, namun mereka tidak bisa hadir,” dalih Avian Tumengkol, juru bicara Immodicus.
Di bagian akhir ditampilkan upaya-upaya yang telah dilakukan Lapindo terkait dampak sosial yang disebabkan semburan lumpur. Munculnya Andi Darussalam Tabusala, yang disebut sebagai wakil keluarga Bakrie, terkesan sebagai justifikasi bahwa Lapindo tidak terkait dengan semburan lumpur panas tersebut.
Andi memang menyatakan bahwa Lapindo telah mengeluarkan banyak uang untuk membantu menyelesaikan masalah yang terkait Lapindo. Tapi, dia menegaskan bahwa bantuan tersebut tidak bisa diartikan bahwa Lapindo mengaku bersalah. “Sebagai bentuk tanggung jawab sosial. Seperti tetangga yang membantu tetangganya yang sedang dirundung masalah,” katanya.
Kesan tersebut semakin kuat dengan ditampilkannya korban Lusi yang sudah direlokasi dan mendapatkan rumah di kompleks perumahan di Sidoarjo, yang dibangun Lapindo. Korban, yang tampaknya pasangan muda, mengaku sangat beruntung. “Tidak pernah terbayangkan sebelumnya kalau kami akan mendapatkan rumah yang sebagus ini,” kata sang suami yang berjenggot tersebut.
Namun, upaya menjaga netralitas film di tengah kontroversi yang masih terus berlangsung, luntur karena tidak ditampilkan korban yang belum terselesaikan masalahnya, sebagai penyeimbang pernyataan korban yang merasa diuntungkan tadi.
Ending film tersebut makin mengesankan sulitnya menjaga netralitas dengan ditampilkannya perkembangan terakhir kasus Lusi yang menyebutkan bahwa polisi sudah menghentikan pemeriksaan dengan menerbitkan SP3 (surat perintah penghentian penyidikan). Hal itu diperkuat dengan penjelasan adanya desakan DPR agar pemerintah mengambil alih penanganan dampak Lusi.
Di sisi lain, tidak ditampilkan hasil voting para ahli geologis internasional dalam konferensi di Capetown, yang menunjukkan bahwa sebagian besar mereka (sekitar 70 persen) menyatakan Lusi bukan sebagai natural disaster, melainkan disebabkan faktor manusia (man made). Seharusnya, kalau memang berniat netral, fakta itu juga ditampilkan sebagai penyeimbang.
Yang juga patut dicermati adalah komentar Amanda Clarke, profesor dari Pennsylvania State University, salah satu ahli yang diwawancarai dalam film tersebut. Peneliti penyebab letusan vulkanik itu menyatakan bahwa besarnya dampak Lusi karena terjadi di pemukiman yang padat. “Andai saja itu terjadi di Texas, tidak akan terjadi chaos (kekacauan) seperti ini,” katanya.
Namun, ketika ditanya apakah itu berarti aktivitas pengeboran harus jauh dari permukiman -apalagi permukiman padat seperti di Porong-, dia buru-buru menampiknya. “Ini tidak ada kaitannya dengan pengeboran. Saya hanya ingin mengatakan bahwa lokasi semburan di Porong yang berada di permukiman padat menimbulkan kekacauan. Kalau di Texas, kan wilayahnya tidak sepadat itu,” tambahnya.
Dia hanya mengingatkan bahwa Indonesia berpotensi besar terhadap “serangan” bencana alam. Karena itu, pemerintah seharusnya menyosialisasikan hal tersebut kepada rakyat dan membuat mereka “waspada”. Sebab, banyak fenomena alam yang unpredictable. Bahkan, yang sudah terjadi seperti Lusi itu pun masih misterius. (leak)
Sumber: JAwapos
Selasa, 17 November 2009
SCOTTSDALE - Tidak mudah membuat film dokumenter tentang kejadian yang masih terus berlangsung seperti semburan lumpur panas di Porong, Sidoarjo. Kru film MUD MAX: Investigative Documentary-Sidoarjo Mud Volcano Disaster, harus beberapa kali menyesuaikan skenario yang disusun dengan perkembangan di lapangan.
Perlu waktu 27 bulan untuk menyelesaikan proses pembuatan film MUD MAX. Itu molor lebih dari empat kali waktu yang direncanakan semula yang cuma enam bulan. Tambahan waktu itu diperlukan karena beberapa kali harus dilakukan penyesuaian pada skenario yang dibuat mengingat perkembangan situasi di lapangan. “Kami siapkan frame-nya. Namun, karena ada perkembangan baru, ya harus ada penyesuaian,” jelas associate produser film tersebut, Ismutia Rahmi.
Molornya proses pembuatan film itu juga menyebabkan beberapa kru harus keluar. Bukan karena adanya perbedaan ide, namun semata habisnya masa kontrak. “Yang keluar itu karena sudah ada kontrak untuk proyek lain. Jadi, ya tidak bisa diperpanjang,” tambah perempuan bertubuh mungil tersebut.
Kendala lain yang menyebabkan molornya pembuatan film tersebut adalah sulitnya mendapatkan dukungan dari pihak-pihak terkait semburan lumpur. Beberapa yang sudah setuju, menurut Muti -panggilan akrab Ismutia- ternyata menolak. “Awalnya bilang mendukung. Namun, setelah kita datangi kali kesekian, tidak bisa,” ungkapnya.
Berapa besar ongkos membuat film tersebut? Baik Immodicus sebagai produser maupun Arizona State University (ASU) menolak membeberkannya. Hanya, produser Chris Fong menyebut film tersebut adalah “film murah”. “Tidak sampai sepersepuluh biaya pembuatan film dokumenter Ring of Fire,” katanya setelah premier launching film MUD MAX di Mondrian Hotel Scottsdale, Arizona, Amerika Serikat, Jumat lalu (13/11).
Murahnya biaya pembuatan film tersebut, menurut Chris, karena editingnya dilakukan di Indonesia. “Andai dilakukan di sini (Amerika Serikat), wow! mahal,” kata lelaki yang suka tersenyum itu. Setelah film MUD MAX selesai, Chris menyatakan tidak memiliki target muluk. Dia memang mencoba mengikutkannya dalam beberapa festival film, termasuk di Cannes, Prancis. Namun, dia tidak menargetkan hasil tertentu.
“Dengan film ini, kami ingin menyadarkan para pelajar di Indonesia, utamanya, bahwa negeri mereka berpotensi besar terkena bencana,” papar Hilairy Hartnett PhD, peneliti bidang biogeochemistry di ASU. Menurut dia, harus lebih banyak pelajar Indonesia yang mempelajari geologi. Sebab, itu akan membantu menghadapi berbagai fenomena geologis Indonesia terkait posisinya di lingkaran gunung berapi Ring of Fire.
Menurut perempuan peneliti tersebut, banyak fenomena alam yang unpredictable, termasuk semburan lumpur panas di Sidoarjo. Dia bahkan tidak berani memprediksi berapa lama semburan berlangsung dan akan menjadi apa lokasi semburan itu. Dia hanya memaparkan hasil penelitiannya bahwa semburan tersebut lebih banyak mengandung air dibanding material padat. “Sekitar 90 persen kandungan semburan itu adalah air,” katanya kepada rombongan wartawan dari Indonesia yang berkunjung ke laboratoriumnya di ASU. (*/oki)
SUmber: JAwapos

Tempo dulu berkata
when will bioskop 321 show the film?!!